Novelblog Bersambung "Biarkan Cinta Memilih" Hais Quraisi



BAB: DUA

Ah Lai dan Fahim

AKU sangat meyayangi Ah lai, dia adikku. Kami dua bersaudara, Ah lai adik yang sangat menyenangkan. Ia juga anak yang pintar di sekolah kala itu, semangat belajarnya cukup tinggi. Karena kemiskinan orangtua kami, Ah lai tidak melanjutkan sekolah setahun lalu. Kala itu Ah lai yang meminta untuk berhenti, karena dia sering menunggak bayaran sekolah, akibat kemiskinan kami.


Suatu hari Ah lai tidak kuat menahan derita di sekolah. Kepala Sekolah kerap menghukum adikku dan teman-temannya yang tidak bisa membayar uang sekolah. Karena terus-menerus dipermalukan di sekolah, Ah lai memilih untuk tidak melanjutkan sekolah. Padahal aku sudah membujuknya untuk kuat menghadapi cercaan apapun dari sekolah. Karena memang kami belum mampu membayar uang sekolah.

Aku laporkan hal itu pada bapak. Tapi bapak tidak bisa berbuat apa pun. Kecuali marah-marah dan mengecilkan semangat Ah lai untuk berhenti sekolah. Kalau kami memberi laporan yang tidak bisa ia terima, Bapak kerap berteriak-teriak sambil memukul-mukul meja melampiaskan emosinya. Bapak kami tidak bisa diajak untuk berkompromi apalagi melahirkan solusi.


Andaikan emakku masih hidup. Ia bisa memberikan jalan keluar terbaik buat kami. Emak sangat bertanggungjawab pada kami, melebihi batas hari, terus berjuang mencari uang dengan berjualan hio hingga larut. Semua buat kami, buat pendidikan kami.


Untuk memenuhi kehidupan kami, Ah lai dan aku melanjutkan usaha mendiang emakku berjualan hio di Klenteng Kompleks Duta Mas, Penjaringan Jakarta Utara. Masing-masing dari kami mendapat jatah Lima Belas bungkus hio setiap harinya. Tapi yang namanya berjualan hio, satu hari paling hanya laku dua sampai empat bungkus saja.


Dari satu bungkus hio yang terjual, kami memperoleh keuntungan Seribu rupiah. Itu pun tidak semuanya laku. Kalau di kompleks Duta Mas sedang sepi, biasanya kami akan pergi ke klenteng di Petak Sembilan. Aku dan Ah lai berjalan kaki, hujan panas sudah tidak kami rasakan lagi, terpenting, bagaimana sore nanti kami bisa membawa pulang uang untuk di storkan ke bapak. Maklum, bapak kami tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga kami harus turun bersama menopang kehidupan keluarga.


Berjualan hio dari klenteng satu ke klenteng lainnya bukan pekerjaan mudah. Kami harus ekstra berjalan kaki berkilo-kilo meter. Karena kalau naik mobil ongkosnya Tujuh Ratus rupiah seorang. Kalau berdua duitnya tidak cukup untuk beli beras seliter ditambah lauk seadanya.


Imlek sudah datang lagi, aku lihat betapa sibuknya orang-orang Tionghoa Kota memburu perlengkapan imlek di pusat-pusat perbelanjaan. Aku dan adik perempuanku, Ah Lai justru hanya bisa mengurut dada. Bahkan kami juga tidak tahu pasti makanan apa yang akan diberikan sebagai sesaji bagi leluhur ketika malam Sin Cia tiba. (pergantian tahun).


Biasanya kalau tidak punya uang seperti ini, kami hanya persembahkan sesaji dengan menu seadanya. Kalau ada tahu, ya kami beri tahu. Kalau ada tempe ya, kami beri tempe. Pokoknya, apa yang kami punya saat itu, itulah yang kami persembahkan.

1

Rumah kami sangat sederhana, terbuat dari triplek dengan bangunan semi permanen. Hampir tidak ada barang berharga jutaan rupiah di rumah ini. Kami tidak punya apa-apa, kecuali sebuah televisi hitam putih berukuran 17 inci yang lama rusak, yang kami jadikan pajangan di ruang tamu.

***

Kendati kami lain berkeyakinan sejak setahun lalu. Ah lai mau pun bapak tidak pernah bermasalah. Namun kami saling harga-menghargai. Dan Ah lai serta bapak mendatangi kuburan ibu. Di sana Ah lai dan bapak melakukan persembahyangan chau tu dan poun. Bagi orang Tionghoa ritus ini untuk menghormati para leluhur di alam baka. Namun yang paling penting sembahyang chau dan poun lebih ditekankan sebagai ritual untuk mengingat yang telah meninggal. Dengan sembahyangan seperti ini, diharapkan, mereka yang telah mendahului akan merasa senang.


Perasaan senang ini merupakan perbuatan baik yang dilakukan dalam wujud pikiran, dengan melakukan perbuatan baik. Melalui perbuatan baik ini, maka kumpulan karma baik amal ibadah akan bertambah. Sehingga pada suatu saat, ketika kumpulan karma baik mereka telah cukup, mereka akan meninggal dan lahir di alam yang lebih bahagia.

Aku lihat Ah lai tidak dapat membendung kepedihannya. Tangis Ah lai pecah. Kami berusaha membimbing Ah lai agar kekhusuannya terpelihara. Ah lai tetap terseguk menahan rasa kesedihan.

“Ci, Ah lai tidak bisa melupakan emak. Masih terus terbayang, bagaimana emak menasehati Ah lai,” kata adikku usai sembahyangan.

Aku diam saja. Tidak bisa juga bicara apa-apa. Seperti juga Ah lai, aku pun berdoa dengan agama keyakinanku sendiri. Aku kirimkan surat Al Fatihah. Tidak banyak yang aku ucapkan kecuali bermunajah, agar Allah Ala Wa Zalla memberikan ampunan dosa.

Sesampai kami di rumah Ah lai mengeluhkan kondisi kesehatannya akhir-akhir ini. Ia kerap menahan sakit. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya sering pusing-pusing. Di bagian kulit tangannya seperti teriritasi. Betapa aku sangat terkejut dengan kondisi adikku ini.

“Ci, Ah lai tidak kuat untuk ke klenteng. Beberapa hio yang sudah di pesan kong Asoi tolong dibawakan,” kata Ah lai.

“Ya, sudah! Kamu istirahat saja. Biar Enci nanti yang antarkan hio itu.”

Ah lai nampak sedikit tenang. Aku lihat dia tertidur pulas di bale-bale depan rumahku. Ku ambil selimut dari dalam kamar, sambil kupandangi wajah adikku itu.

Betapa hati ini berkecamuk ketika saja ia utarakan deritanya. Derita yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Sebagai kakak, aku tentu sedih mendengar kabar itu. Kabar yang tidak sangat menyenangkan. Aku berpikir, Ah lai harus diperiksakan ke dokter, karena ada ketidak wajaran dari sakit yang dikeluhkannya.


Ku basuh wajahku dengan air wudhu. Ku jalani sholat Ashar sore ini. Bermunajah aku pada-Nya. Karena tak mampu kubendung perasaan gundah. Semua seperti air yang mengalir begitu saja. Ku tutup doa untuk Emak di alam sana.


Doa yang selalu menyala dari batinku. Kehidupan yang selalu memiliki banyak cerita duka. Walau nampak ada setitik harap, ketegaran selalu kucoba dalam menatap kehidupan ini.

2

Ku cium kening adikku seiring tangisku memecah dalam kegalauan. Lalu kuambil hio pesanan kong Asoi. Walau berat kutinggalkan adikku seorang diri, tapi apa dikata, tugas sudah menanti. Bila tidak besok kami tidak punya uang untuk menyambung kehidupan ini.


Sepanjang perjalanan ini, aku terus terbayang akan Ah lai. Andai saja uang cukup banyak, aku bisa menyewa bus sampai tujuan. Tapi aku tak punya uang lebih lagi. Aku harus menghemat uang untuk esok. Dan berharap hari ini ada rezeki untuk kami.


“Cinta!”

Suara yang aku kenal. Betul juga! Suara ko Fahim. Dia mengendarai motor CB. Dan persis berhenti di sampingku.

“Mau kemana?”

“Ko Fahim, aku mau mengantar pesanan hio ini untuk pelanggan.”

“ Mau kuantar?”

Tak ragu lagi. Ku duduki jok belakang motor ko Fahim.

“Ko Fahim mau kemana?” tanyaku.

“Mau cari pita tik.”

“Di toko buku Delima memang tidak jual?’

“Habis! Ya, terpaksa cari di toko yang lain.”

“Wah, aku jadi ngerepotin, dong?’

“Nggak! Tak apa-apa. Aku senang kok. Senang banget.”

Mendengar pernyataan jujur koko Fahim, wah berdebar-debar hatiku.”

“Kiiiik!” Sepeda motor koko Fahim berhenti mendadak. Ku lihat koko Fahim hampir tidak melihat lampu lalu lintas berhenti.

“Kamu kejedug helmku, ya?”

“Ndak, ndak apa-apa ko Fahim.

“Ya, udah. Sekarang kamu pegangan koko. Supaya tidak jatuh.”

“Pegangan di mana?” Aku sedikit grogi.

“Pegangan tiang jemuran! He.. he..he!”

Aku diam.

“Ayo, pegangan. Mau lampu hijau.

Dengan perasaan dag dig dug, akhirnya kulingkari tanganku ke pinggang koko Fahim yang tampan itu. Ah... serr juga rasanya. Bagaimana, ya kalau ada yang melihat ini. Pasti aku digosipkan.

Tidak terasa, kami sudah sampai klenteng petak sembilan. Di sana sudah ada kong Asoi yang seperti sudah lama menunggu.

“Maaf, kong telat. Ah lai tidak bisa ke sini. Dia sakit.”

“Tidak apa-apa. Ini uangnya!”


Alhamdullilah, bisa juga aku bawa Ah lai besok ke puskesmas. Wajahku sedikit berbinar-binar. Dan rupanya koko Fahim memperhatikannya. Koko Fahim begitu dalam memandangku. Aku jadi salah tingkah. Bukan apa-apa. Dia terlalu ideal untuk menjadi pendampingku. Tapi, jauh amat aku punya pikiran seperti itu. Mungkin aku Ge-ER. Gede Rabang... eh Gede Rasa, kali.

***

3

Inilah awal aku jatuh cinta. Seorang gadis bernama Cinta. Rasanya berjuta indahnya, bagai tiada tara. Hu... sungguh menyenangkan dunia ini. Tapi... bagaimana dengan ko Fahim? Apa juga punya perasaan yang sama? Inilah namanya misteri rasa.


Ah lai memandangku dengan seksama.

“Ci, kok berbinar amat wajahnya?”

“Ya, karena Enci bisa bawa kamu ke puskesmas besok.”

“Tak usah, ci.”

“Tidak apa-apa. Supaya kamu lekas sembuh.”

Ah lai terdiam.

“Kamu mau sehatkan, sayang.”

Ah lai mengangguk.

Tiba-tiba saja terdengar suara sepeda motor di depan rumah. Dan benar. Sepeda motor sang arjuna yang datang. Aku jadi salah tingkah, nih. Sikapku memang menjadi berbeda. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.

“Cinta, aku lupa tadi mau beri tahu kamu.”

“Ada apa ya, ko Fahim.”

“Besok ada pelatihan pembuatan kertas daur ulang, buat pendidikan keterampilan ibu-ibu PKK di sini. Hm... apa kamu bisa terlibat jadi panitianya besok?”

Aku mau banget memenuhi permintaan koko Fahim. Tapi, bukankah besok aku harus memeriksakan kondisi Ah lai.

“Kok diam?”

“Ya...ya.. bisa! Tapi...”

“Tapi kenapa?”

“Aku mau memeriksakan Ah lai ke puskesmas.”

“Oh... ada apa dengan Ah lai?”

“Ya, ko Fahim lihat sendiri. Kulitnya semakin rusak, seperti terbakar. Suhu badannya juga panas meninggi sejak siang.”

“Kenapa harus besok. Kita periksakan saja pada dokter Robert malam ini.”

Aku diam. Bingung menjawabnya. Bukannya tidak mau aku membawa ke dokter Robert. Tapi uangnya tidak cukup.

“Kok diam”

“Hmm... gak, gak apa-apa. Biar besok saja.”

“Sekarang saja.”

Aduh mau berkata apa dengan koko Fahim. Masa aku terus terang bilang uangnya tidak cukup. Wah, bisa turun gengsiku. Ah, mau ngomong apa , ya.

“Sudah, yuk kita bawa ke dokter. Nanti kupanggilkan bajaj dulu.”

Walah, pakai panggilin bajaj segala. Jangankan naik bajaj. Buat bayar dokternya saja aku bingung. Aku jadi salah tingkah.

“Iya, ci, bawa aku sekarang saja ke dokter Robert. Aku sudah tidak tahan,” ujar Ah lai.

“Ok! Aku cari bajaj dulu, ya.”

“Tak usah, ko..!” Wajahku tegang.

“Kenapa?”

Aku diam.

Koko Fahim akhirnya menstaterkan sepeda motornya.

4

Tak lama motor koko Fahim dan bajaj itu tiba. Dengan hati tak menentu, ku bawa langkahkan kakiku ke dokter Robert dengan membawa Ah lai. Ada yang bikin aku cemas. Selain aku bingung membayar dokter Robert, juga keterangan dokter akan penyakit Ah lai.


Koko Fahim diluar ruang pemeriksaan. Aku Cuma satu, kalo uangnya kurang, aku harus berani bilang ngutang. Akh, memalukan. Tapi mau ngomong apalagi. Aku memang tidak punya uang.

“Jadi, penyakit adik ini mengalami penyakit dalam. Saya beri obat sementara untuk ditebus. Kalau obatnya habis, saya beri surat rujukan untuk di bawa ke dokter spesialis kulit di RSCM bisa.” Kata dokter Robert.

“Apa yang terjadi dengan adik saya, dokter?”

“Saya tidak bisa menyimpulkan. Harus ahlinya yang mendiagnosa. Di sana akan ada alat yang tidak kami miliki di sini.”

Hatiku semakin lemah saja. Lunglai tidak berdaya. Tatapanku nanar.

Tiba-tiba pintu ruang dokter terbuka, menyembul wajah koko Fahim. Tiba-tiba aku tak bisa mengontrol emosiku. Ku peluk koko Fahim. Aku menangis sejadi-jadinya. Ko Fahim tentu saja bingung. Ia mengoyak-ngoyak tubuhku. Kudengar dia bertanya keras atas insiden ini.

“Ada apa dokter? Ada apa dengan adikku?”

Dokter Robert pun menjadi sangat ketakutan, walau dia berusaha menenangkan dirinya. “Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya kaget saja.”

“Ko Ah lai... Ah lai...”

Aku puas melampiaskan rasa kecemasanku.

“Ko..., “ kataku terhenti.


Akhirnya koko Fahim mengeluarkan uang dari dompetnya dan melunasi biaya berobat itu. Walau sebenarnya aku tidak menginginkan itu terjadi. Kecemasanku terhadap penyakit yang di derita Ah lai mengalahkan gengsi dan perasaanku pada Fahim.

***

Note: Cerita Selanjutnya bersambung ke BAB Tiga.

Pembaca bisa beri saran dan kritik ke 08561851858610/wartamutiara@gmail.com

Pembaca yang ingin berkenalan dengan model tokoh fiksi ini dapat sms 08561858610/hais@ymail.com

Penerbit/PH/TV yang berminat atas novel ini dapat hubungi: Hais Quraisi 02193203409

5