Penjaja Cobek Berjuang Untuk Hidup

Penjaja cobek batu yang kerap kita temui di kawsan Pondok Indah dan Karang Tengah sampai Cinere, pelakonnya pedaagang cilik. Mereka bertahan sejak pagi hingga rembulan merekah menjelang larut.


Tak pernah mereka kenal bangku sekolah yang sama seperti pernah Anda rasakan sejak kecil. Jauh dan makin jauh.

Mereka hanya menghitung, berapa jumlah cobek batu yang dipertontonkan di trotoar jalan itu dapat ditaksir pelalang di sana. Karena hal itu tidak mudah. Jaman secanggih ini sudah usang memakai cobek, peralatan masak yang serba praktis dan modern selalu ditepis pemikiran Warno.

Pria cilik ini hanya berharap dua atau tiga cobek batu saja terjual, ia mampu bertahan hidup satu sampai dua hari. Semua harus dibayar dengan sebuah impian. Sama halnya Anda yang memiliki dream untuk punya banyak kekayaan. Warno dan kawan-kawan pun punya dream untuk bisa tercapai impian, yaitu makan enak esok.

Pikiran bocah itu sama dengan pendaki gunung, berhenti diketinggian Pangrango, sama artinya mati. Mereka harus memperoleh puncak kecil yaitu penglaris. Bagaiamana dengan Anda?! (hs)