Rumah Allah Rumahku


Masjid bak Kapal Pesiar

By: Hais dan Indra

LETAK-nya dengan Jakarta tidaklah terlalu jauh. Hanya 20 KM dari Kebayoran lama, Jakarta Selatan. Namun, cahaya Masjid 'Bani Umar' sudah terasa di sini. Begitulah pengalaman yang kami rasakan ketika hendak mengunjungi Masjid yang dibangun istri Umar Wirahadikusuma.

Aku dan Indra tidak sengaja melintasi kawasan Bintaro. Kalau saja tidak melintasi kawasan itu, tidak pernah terjadi untuk melihat kebesaran rumah Allah. Masjid berarsitektur bak Kapal Pesiar itu memiliki bangunan megah dengan menara alif. Berbentuk telunjuk tangan. Jikalau Anda menaiki undakan masjid itu, seakan Anda melihat samudra pada hamparan rumput yang terawat.

Sangat kebetulan kami singgah sholat Magrib. Sehingga terasa birunya langit dan dinginnya dedaunan menerpa wajah kami. Di dukung lampu masjid yang terkelap-kelip bak kapal pesiar berjalan. Subhanallah! Indah sekali masjid ini. Aku bergumam pada Indra, sahabatku. Lalu, kami turun dari Gran max, menuju wadas. Semangin menggigit dinginnya keran air yang menucur.

Sayang, kami tidak bisa ceritakan secara detail Masjid ini, karena ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tidak ada di tempat. Kepada pak Topik, kami di pandu untuk melihat album dan sekelumit biografi berdirinya masjid 'Bani Umar'. Namun sayang seribu sayang, buku yang semula asli, tiba-tiba ditukar foto kopian. Aku paling sensitif dengan buku. Sedikit kecewa, hingga ketika akan menurunkan tulisan ini, foto copyan panduan data masjid itu hilang. Sudah coba kucari tapi sia-sia. Entah apa aku sudah lelah, hingga tak mampu lagi mencari.