Dodot Mini Pengemis Gerbong Kereta
Synopsis Program TV 'Bukan sinetron' Global TV
Dodot Mini namaku, usiaku sudah 30 tahun, tapi tubuhku hanya 30 cm, tidak pernah beranjak perkembangannya sejak usiaku dini. Entahlah siapa yang harus aku sesali terhadap kenyataan hidup yang harus kujalani ini.
Aku lahir dari kondisi orangtua yang tidak mampu, aku lima bersaudara. Kedua orangtuaku sudah tiada, sementara keempat orang saudaraku tak lagi mereka pedulikan nasibku. Jangan memikirkan apakah aku bisa berumahtangga layaknya orang normal, untuk memikirkan kelangsungan hidupku saja sudah sejak kecil harus berdiri di kakiku yang lumpuh ini.
Selain tubuhku mini, aku juga berperawakan kurus. Berangkat perputaran waktu, wajah imutku juga semakin terlihat ketuaannya. Namun, semua kekurangan yang Tuhan berikan padaku harus kuterima dengan ikhlas, jika terus kupikirkan, bisa dibayangkan, betapa aku semakin kurus dan lusuh.
Sampailah aku berkenalan dengan Dadang, Roni dan Yupek. Mereka ini sangat baik awalnya padaku. Baru kuketahui mereka adalah preman di Kereta Api Jabotabek. Mereka menangkap kekurangan fisikku menjadi inspirasi mereka mengkaryakan sebagai pengemis gerbong Kereta Api.
Setiap harinya, aku dipaksa mereka harus menghasilkan uang Ratusan Ribu rupiah sebagai upaya pemanfaatan orang bersimpati padaku, sebagai belas kasih untuk menyisihkan uangnya disedekahkan untuk aku. Tapi sesungguhnya penghasilan yang kudapat tidak kunikamti sendiri. Uang hasil belas kasih orang itu untuk mereka yang aku sebut sebagai bos.
Ada tiga orang bos aku. Dadang sebagai bos besar, Roni sebagai bos pengawas dan Yupek yang bertindak sebagai orang yang mendampingi dan mengawasiku di lapangan. Sebagai sasaran kerjaku sebagai pengemis adalah Kereta Api Jabotabek. .
Berangkat pagi, pulang menjelang malam bersama Yupek. Aku tinggal di perumahan kumuh kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tinggal bersama mereka tanpa adanya perawatan kesehatanku. Aku hanya diberi imbalasan 25 Ribu rupiah saja setiap harinya, sedangkan yang aku tahu, aku bisa meraup uang dari belaskasih orang Seratus sampai Dua Ratus Ribuah rupiah tiap harinya. Tapi, aku tidak pernah bisa protes. Aku selalu berada pada pihak yang lemah. Dan aku pun di dokrin para bosku agar tidak berinteraksi pada orang lain. Mereka khawatir aku akan dilindungi. Itu artinya mereka kehilangan pencarian dari pekerjaanku sebagai pengemis gerbong kereta. Tak ada perlawanan, kerap bila aku melawan, sama artinya menghadapi kekerasan hidup mereka alias aku cari celaka. (hais)
****




























