Bagaimana rasanya di pasung selama 30 tahun? Ini kisah nyata seorang perempuan bernama Teni. Semua tidak peduli atas nama kemiskinan.





30 Tahun dalam Pasungan

Tidakkah kita melihat warna lain dalam hidup ini? Setidaknya aku. Aku melihat warna lain itu. Dalam pandangan nisbi seorang wanita. Teni namanya. Umur di perkirakan 45 tahun. Wanita beranak tiga ini sudah hampir 30 tahun dalam pasungan.

Ia di pasung karena kedua orangtuanya tak mampu lagi membawanya berobat ke rumah sakit jiwa. Kabarnya pernah dibawa ke rumah sakit Jiwa namun, Teni melarikan diri.

Alkisah, Teni mengidap penyakit jiwa. Selepas ia tinggalkan suami pertama. Setelah menjalani suami kedua. Sudah mulai terserang lupa ingatan. Ia tidak lagi bisa melihat indahnya kehidupan normal, termasuk juga merawat ketiga orang anaknya.

Teni oleh orangtuanya mulai di terapi, saat orangtuanya tak mampu lagi mengobati Teni ke rumah sakit jiwa. di dalam rumah pun Teni selalu triak-triak, dan merusak perabotan rumah. atas saran tetatangganya, Teni sebaiknya di pasung. Lalu orangtuanya mulai membuat 'rumah' pasung seperti kandang di tepi pengairan, pinggir tanah perkebunan di Arco desa Citayam, Tajur halang, Bogor.

Orang tuanya sudah pasrah, ia tidak mampu lagi untuk mengobati Teni yang sudah beranak pinak tersebut. Kondisinya semakin kritis sejak punya anak ke dua dari suami kedua bernama Pandi. Ke pasrahan itu yang membuat Teni menjadi hilang ingatan.

Ia tidak bisa lepas dari derita itu. Derita yang ia anggap sebagai kodrati. Padahal kondisi Teni bisa di atasi dengan baik, kalau saja ada donatur atau kepedulian pemerintah terhadap perempuan yang di pasung selama 30 tahun itu.

(Kisah Teni bisa Anda baca secara lengkap di majalah Ombusman News edisi April 2009)
Selengkapnya...