Kriminal:
Culik, bius, sekap Modus Baru Penculikan Penjualan Perempuan
Mabes Polri awal tahun 2009 ini, menggaungkan kembali tentang keberhasilannya mengungkap kasus perdagangan manusia (human trafficking). Kasus ini diawali dengan penculikan, karena di mulai dengan upaya paksa, dengan modus baru bius dan sekap. Penculikan ini di kuasai mata rantai sindikat.
Sindikat perdagangan manusia ini menargetkan perempuan sebagai sasaran utama, dan dilakukan dengan cara beragam untuk mengejar targetnya. Culik dan Jual, sudah bukan modus baru, namun sudah menjadi ongkos kapitalisem sindikat kejahatan perdagangan manusia. Sindikat penjualan manusia yang utama disasar gadis remaja belasan tahun untuk dijadikan pekerja seks. Tiap tahun makin merambah, karena polisi dan berbagai pihak jarang menuntaskan kasus ini sampai ke akar-akarnya. Aksi germo menjual anak belasan tahun itu benar-benar mengancam kita.
Kisah tentang perempuan yang diperdagangkan tidak pernah pupus dari pemberitaan media. Era tahun 2008, 2007, 2006 bahkan hampir tiap tahunnya selalu ada. Pemerintah Indonesia seakan-akan tidak pernah mampu menuntaskan semuanya. Banyak pihak mengira sudah banyak tangan yang terlibat dan di atas semua itu, sehingga ‘mandul’, dan terkesan menatap sebelah mata.
Penjualan perempuan juga sudah menyasar pada gadis belia. Mereka diperjualbelikan sebagai pekerja seks komersial. Pelakuknya germo yang masuk dalam sendikat kejahatan tersebut yang telah mengancam ketenangan masyarakat.
Peristiwa baru-baru ini adalah kasus yang menimpa Santi, (bukan nama sebenarnya). Gadis ini seharusnya masih duduk dibangku SMA. Namun malang, ia harus menelan pil pahit perdagangan manusia. Berdasarkan pernyataan Direktur I Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Brigadir Jendral (Brigjen) Polisi Badrodin Haiti menyebutkan, Santi korban yang berhasil diungkap, dengan kasus penculikan.
1
Santi yang menginjak usia 15 tahun ini, awalnya di culik dikampungnya di Lampung. Santi di culik ketika berangkat ke sekolah. Pada saat itu, Santi dikepung lima orang pria yang menutup wajahnya. Seperti dalam kisah film, Santi di bekap, dan langsung di masukan ke dalam mobil.
Waktu itu 4 Juni 2008. Hari yang membawa nestapa menimpa Santi. Betapa tidak, Santi harus berurusan dengan pria-pria pencoleng itu. Sempat tersadar, ia korban penculikan. Santi belum bisa berbuat banyak, telah dipaksa untuk ‘tidur’. Para penajahat itu menyuntikan cairan pada bagian tubuh Santi. Itu merupakan obat bius, yang membuatnya Santi tak sadarkan diri.
PONTIANAK
-----------------
Perjalanan 7 juni 2008 adalah hari yang kelam bagi Santi. Sejak di culiknya 4 Juni 2008 praktis sudah tiga hari ia berada di dunia yang berbeda. Sampai pada saat ini, Santi berada di udara. Pesawat Batavia Air telah menerbangkan Santi pada tujuan yang tak ia ketahui.
Hati Santi gundah, ia merasa tidak memiliki teman yang dikenalnya.Untunglah ada orang yang mirip adik kelasnya waktu di SLTP di Bandar Lampung bernama Helmi.
Helmi seorang perempuan di peasawat Batavia Air yang kerap bertanya pada Santi. Namun Santi sendiri tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Helmi kepadanya
Diantara pertanyaan Helmi.“Mengapa kita berada di sini?” Dan Helmi juga mengenali Santi sebagai teman satu sekolah. Santi pun semula ragu. Mungkin karena Santi penuh kegundahan. Hingga ia menginjakan kaki di Bandara Supadio, Pontianak pun hatinya tetap gundah.
Di Bandara Supadio, Santi pun masih memakai seragam sekolah yang dibalut sweeter kuning, lengkap dengan jilbab. Semakin gundah lagi, Santi dan Helmi dibimbing seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Ana. Di Bandara Ana memperkenalkan Santi dan Helmi dengan seorang pria yang belakangan diketahui bernama Kum Seng. Mereka terlibat percakapan, hingga akhirnya Kum Seng menawarkan mereka sarapan pagi.
Santi, Helmi, Ana, dan seorang perempuan lagi bernama Bunda, yang juga satu pesawat dengan mereka, kemudian meninggalkan Bandara Supadio dengan mobil Kum Seng. Kum Seng awalnya ramah. Ia banyak bertanya berbagai hal, termasuk tujuan kami. Kenang Santi. Tapi, ketika lepas Bandara, pria itu berubah. Ia membuat hati Santi semakin gundah-gulana.
2
Kum Seng adalah pria separuh baya. Pria ini telah menyentakan Santi pada sesuatu yang buruk. Kum Seng mencoba untuk mengancam kami bila tidak menuruti perintahnya. Dengan mobil Kum Seng, mereka di bawa ke Terminal Bus Batu Layang, Pontianak. Ternyata apa yang di pikirkan Santi menjadi kenyataan. Di terminal bus itu, sudah menunggu tiga pria. Mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali menuruti perintahnya. Mereka langsung digiring ke bus jurusan Entikong, Kalimantan Barat.
“Kami di awasi ketat. Untuk makan dan kencing pun waktu turun makan di warung kami tetap mendapat pengawalan. Mereka mengancam kami akan di buang kelautan bila tidak menuruti aturan yang mereka buat,” kisah Santi.
Di dalam bus, Helmi bercerita pada Santi bahwa dirinya di culik pria tidak dikenal. Penculikan itu terjadi 4 Juni 2008. Hari yang sama dengan Santi, hanya saja bedanya Helmi di culik mereka pada pagi hari ketika ia mandi di sungai. Seperti Santi, Helmi juga diperlakukan dengan pembiusan. Kesadarannya langsung hilang ketika dimasukan ke dalam mobil.
Setibanya di Entikong Santi dan tiga perempuan lainnya dibawa ke penginapan Tini Raharja atau yang lebih dikenal dengan sebagai penginapan Tini Jaya Entikong. Seorang pria berkulit hitam sudah menunggu di sana. Dan keempat perempuan itu dibawa ke lantai duia kamar penginapan itu. Selama di penginapan, kami diancam pria itu yang akhirnya diketahui bernama Nurdin.
Santi tidak menerima kenyataan ini. Namun Santi tidak tahu harus berbuat sesuatu yang bisa mengubah dirinya saat ini. Semua Santi pasrahkan kepada Tuhan. Karena hanya ke kuatan doa yang dapat Santi lakukan saat itu.Bahkan waktu itu pun dirinya tidak tahu ada di mana, bahkan nama Entikong pun baru di dengarnya. Sementara adik kelasnya waktu di SLTP dulu bernama Helmi bernasib sama, ia tidak bisa berbuat sesuatu kecuali menangis.
DI SEKAP DI ENTIKONG
_______________________
Di Tini Jaya Entikong inilah, Santi dan tiga perempuan lainnya berada sekarang. Tempat yang jauh dari keramaian. Tempat yang asing, bahkan belum pernah sekali pun mereka dengar.
Santi melihat kondisi penginapan itu, sepi. Tidak selayaknya sebuah penginapan yang ia tahu. Penginapan itu sungguh menyeramkan. Menurut penjaga warung di sana, penginapan itu di sewa seharga 40 Ribu rupiah.
3
Hari sudah bertambah lagi. Dan hari ini Santi mengingatnya 8 januari 2009. Santi menginap di kamar yang menghadap kamar mandi. Kondisi kamarnya pun tidak layak. Banyak pintu-pintu di kamar itu yang sudah rusak.
Di penginapan ini hampir tak layak di sebut penginapan, karena memang tidak ada juga plang yang menyebut tempat ini sebagai penginapan. Mungkin yang orang tahu hanyalah sebagai restoran. Tapi dibelakang restoran itulah Santi dan tiga perempuan lainnya tinggal. Penginapan dengan 18 kamar.
Sebelum menempati satu kamar, Santi ditawari kamar lainnya oleh lelaki bernama Ade. Lelaki ini memperkenalkan diri sebagai adik pemilik warung makan Tini Raharja, yang ternyata berfungsi sebagai penginapan..
Empat kamar yang saling berhadapan ini, digembok dari luar. Santi harus merawat kesabaran dan kepasrahan. Hanya Allah SWT yang dapat menolong dirinya. Bahkan kalau kami mau kencing mengalami kesulitan. Ia harus berteriak dan bilang ingin kencing.
Tidak terlalu lama kami disekap di kamar penginapan itu. Pagi harinya, Santi siap diberangkatkan lagi. Entah kemana. Ia sendiri tidak tahu saat itu. Tapi Entikong menjadi tempat yang bersejarah dalam hidupnya. Ia baru ketahuinya sekarang, bahwa Entikong adalah gerbang menuju Malysia. Di sinilah yang kerap kita dengar tentang para TKI yang hendak bekerja ke Malaysia transit, untuk segera menyebrang ke negara tetangga kita itu. Banyak korban trafficking yang hendak di jual ke Malaysia diinapkan sebelumnya di Entikong ini. (Hais Quraisi/sumber Mabes Polri)(Tulisan ini berseri dan pernah di muat di majalah Ombusman News medio Maret 2009)
Sindikat perdagangan manusia ini menargetkan perempuan sebagai sasaran utama, dan dilakukan dengan cara beragam untuk mengejar targetnya. Culik dan Jual, sudah bukan modus baru, namun sudah menjadi ongkos kapitalisem sindikat kejahatan perdagangan manusia. Sindikat penjualan manusia yang utama disasar gadis remaja belasan tahun untuk dijadikan pekerja seks. Tiap tahun makin merambah, karena polisi dan berbagai pihak jarang menuntaskan kasus ini sampai ke akar-akarnya. Aksi germo menjual anak belasan tahun itu benar-benar mengancam kita.
Kisah tentang perempuan yang diperdagangkan tidak pernah pupus dari pemberitaan media. Era tahun 2008, 2007, 2006 bahkan hampir tiap tahunnya selalu ada. Pemerintah Indonesia seakan-akan tidak pernah mampu menuntaskan semuanya. Banyak pihak mengira sudah banyak tangan yang terlibat dan di atas semua itu, sehingga ‘mandul’, dan terkesan menatap sebelah mata.
Penjualan perempuan juga sudah menyasar pada gadis belia. Mereka diperjualbelikan sebagai pekerja seks komersial. Pelakuknya germo yang masuk dalam sendikat kejahatan tersebut yang telah mengancam ketenangan masyarakat.
Peristiwa baru-baru ini adalah kasus yang menimpa Santi, (bukan nama sebenarnya). Gadis ini seharusnya masih duduk dibangku SMA. Namun malang, ia harus menelan pil pahit perdagangan manusia. Berdasarkan pernyataan Direktur I Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Brigadir Jendral (Brigjen) Polisi Badrodin Haiti menyebutkan, Santi korban yang berhasil diungkap, dengan kasus penculikan.
1
Santi yang menginjak usia 15 tahun ini, awalnya di culik dikampungnya di Lampung. Santi di culik ketika berangkat ke sekolah. Pada saat itu, Santi dikepung lima orang pria yang menutup wajahnya. Seperti dalam kisah film, Santi di bekap, dan langsung di masukan ke dalam mobil.
Waktu itu 4 Juni 2008. Hari yang membawa nestapa menimpa Santi. Betapa tidak, Santi harus berurusan dengan pria-pria pencoleng itu. Sempat tersadar, ia korban penculikan. Santi belum bisa berbuat banyak, telah dipaksa untuk ‘tidur’. Para penajahat itu menyuntikan cairan pada bagian tubuh Santi. Itu merupakan obat bius, yang membuatnya Santi tak sadarkan diri.
PONTIANAK
-----------------
Perjalanan 7 juni 2008 adalah hari yang kelam bagi Santi. Sejak di culiknya 4 Juni 2008 praktis sudah tiga hari ia berada di dunia yang berbeda. Sampai pada saat ini, Santi berada di udara. Pesawat Batavia Air telah menerbangkan Santi pada tujuan yang tak ia ketahui.
Hati Santi gundah, ia merasa tidak memiliki teman yang dikenalnya.Untunglah ada orang yang mirip adik kelasnya waktu di SLTP di Bandar Lampung bernama Helmi.
Helmi seorang perempuan di peasawat Batavia Air yang kerap bertanya pada Santi. Namun Santi sendiri tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Helmi kepadanya
Diantara pertanyaan Helmi.“Mengapa kita berada di sini?” Dan Helmi juga mengenali Santi sebagai teman satu sekolah. Santi pun semula ragu. Mungkin karena Santi penuh kegundahan. Hingga ia menginjakan kaki di Bandara Supadio, Pontianak pun hatinya tetap gundah.
Di Bandara Supadio, Santi pun masih memakai seragam sekolah yang dibalut sweeter kuning, lengkap dengan jilbab. Semakin gundah lagi, Santi dan Helmi dibimbing seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Ana. Di Bandara Ana memperkenalkan Santi dan Helmi dengan seorang pria yang belakangan diketahui bernama Kum Seng. Mereka terlibat percakapan, hingga akhirnya Kum Seng menawarkan mereka sarapan pagi.
Santi, Helmi, Ana, dan seorang perempuan lagi bernama Bunda, yang juga satu pesawat dengan mereka, kemudian meninggalkan Bandara Supadio dengan mobil Kum Seng. Kum Seng awalnya ramah. Ia banyak bertanya berbagai hal, termasuk tujuan kami. Kenang Santi. Tapi, ketika lepas Bandara, pria itu berubah. Ia membuat hati Santi semakin gundah-gulana.
2
Kum Seng adalah pria separuh baya. Pria ini telah menyentakan Santi pada sesuatu yang buruk. Kum Seng mencoba untuk mengancam kami bila tidak menuruti perintahnya. Dengan mobil Kum Seng, mereka di bawa ke Terminal Bus Batu Layang, Pontianak. Ternyata apa yang di pikirkan Santi menjadi kenyataan. Di terminal bus itu, sudah menunggu tiga pria. Mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali menuruti perintahnya. Mereka langsung digiring ke bus jurusan Entikong, Kalimantan Barat.
“Kami di awasi ketat. Untuk makan dan kencing pun waktu turun makan di warung kami tetap mendapat pengawalan. Mereka mengancam kami akan di buang kelautan bila tidak menuruti aturan yang mereka buat,” kisah Santi.
Di dalam bus, Helmi bercerita pada Santi bahwa dirinya di culik pria tidak dikenal. Penculikan itu terjadi 4 Juni 2008. Hari yang sama dengan Santi, hanya saja bedanya Helmi di culik mereka pada pagi hari ketika ia mandi di sungai. Seperti Santi, Helmi juga diperlakukan dengan pembiusan. Kesadarannya langsung hilang ketika dimasukan ke dalam mobil.
Setibanya di Entikong Santi dan tiga perempuan lainnya dibawa ke penginapan Tini Raharja atau yang lebih dikenal dengan sebagai penginapan Tini Jaya Entikong. Seorang pria berkulit hitam sudah menunggu di sana. Dan keempat perempuan itu dibawa ke lantai duia kamar penginapan itu. Selama di penginapan, kami diancam pria itu yang akhirnya diketahui bernama Nurdin.
Santi tidak menerima kenyataan ini. Namun Santi tidak tahu harus berbuat sesuatu yang bisa mengubah dirinya saat ini. Semua Santi pasrahkan kepada Tuhan. Karena hanya ke kuatan doa yang dapat Santi lakukan saat itu.Bahkan waktu itu pun dirinya tidak tahu ada di mana, bahkan nama Entikong pun baru di dengarnya. Sementara adik kelasnya waktu di SLTP dulu bernama Helmi bernasib sama, ia tidak bisa berbuat sesuatu kecuali menangis.
DI SEKAP DI ENTIKONG
_______________________
Di Tini Jaya Entikong inilah, Santi dan tiga perempuan lainnya berada sekarang. Tempat yang jauh dari keramaian. Tempat yang asing, bahkan belum pernah sekali pun mereka dengar.
Santi melihat kondisi penginapan itu, sepi. Tidak selayaknya sebuah penginapan yang ia tahu. Penginapan itu sungguh menyeramkan. Menurut penjaga warung di sana, penginapan itu di sewa seharga 40 Ribu rupiah.
3
Hari sudah bertambah lagi. Dan hari ini Santi mengingatnya 8 januari 2009. Santi menginap di kamar yang menghadap kamar mandi. Kondisi kamarnya pun tidak layak. Banyak pintu-pintu di kamar itu yang sudah rusak.
Di penginapan ini hampir tak layak di sebut penginapan, karena memang tidak ada juga plang yang menyebut tempat ini sebagai penginapan. Mungkin yang orang tahu hanyalah sebagai restoran. Tapi dibelakang restoran itulah Santi dan tiga perempuan lainnya tinggal. Penginapan dengan 18 kamar.
Sebelum menempati satu kamar, Santi ditawari kamar lainnya oleh lelaki bernama Ade. Lelaki ini memperkenalkan diri sebagai adik pemilik warung makan Tini Raharja, yang ternyata berfungsi sebagai penginapan..
Empat kamar yang saling berhadapan ini, digembok dari luar. Santi harus merawat kesabaran dan kepasrahan. Hanya Allah SWT yang dapat menolong dirinya. Bahkan kalau kami mau kencing mengalami kesulitan. Ia harus berteriak dan bilang ingin kencing.
Tidak terlalu lama kami disekap di kamar penginapan itu. Pagi harinya, Santi siap diberangkatkan lagi. Entah kemana. Ia sendiri tidak tahu saat itu. Tapi Entikong menjadi tempat yang bersejarah dalam hidupnya. Ia baru ketahuinya sekarang, bahwa Entikong adalah gerbang menuju Malysia. Di sinilah yang kerap kita dengar tentang para TKI yang hendak bekerja ke Malaysia transit, untuk segera menyebrang ke negara tetangga kita itu. Banyak korban trafficking yang hendak di jual ke Malaysia diinapkan sebelumnya di Entikong ini. (Hais Quraisi/sumber Mabes Polri)(Tulisan ini berseri dan pernah di muat di majalah Ombusman News medio Maret 2009)




























