
Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama
Langit mendung membuat hatiku yang merah jingga menusuk. Seorang gadis yang asyik duduk termenung ditepi danau Tonjong, menggoda pikiranku. Wajahnya Ayu keibuan, pandangannya tajam dan senyumnya yang manis mengingatkan aku pada Rosma, tokoh fiksi dalam karya Mahbub Junaedi.
Dia adalah Trisnawati. Seorang gadis Surabaya. Di Bogor ini, Trisnawati bekerja sebagai penyiar radio di Bogor. Radio yang cukup dikenal. Kedatangannya ke Tajur Halang Bogor, rupaya untuk mencari kabar burung tentang bocah cilik murid SD Tonjong yang Tenggelam.
Aku tahu dia bernama Trisnawati, karena seorang kawan wanitanya menyebut namanya. Hmm... tergelitik aku menyapanya, Trisnawati. Tapi, akh... apa tidak risih, ya? Siapa aku? Aku hanyalah seorang pengkail ikan di danau ini.
Rupanya, hatiku terus bercibaku untuk menyapanya. Karena aku tahu dia seorang penyiar, kawan wanitanya itu juga memohon untuk kembali ke studio. Sungguh aku tidak mau meninggalkan moment itu. Bismillah... kusapa Trisna dengan tangan yang kuulur untuk sebuah perkenalan. Ala mak... ternyata dia malah menyebut namaku Hais!
Rupanya dia adalah Faizah, adik kandungku sendiri yang sudah Sepuluh Tahun tidak bertemu. Bagaimana mungkin, itu adikku. Bagaimana mungkin... Akh! Dia adikku sendiri....




























