NovelBlog


BAB: SATU
1
Cina Benteng
Fiksi Bersambung Hais Quraisi

TENGAH MALAM ini, kampung Dadap, kota Tangerang seakan tak lagi mampu menyembunyikan perasaanku. Ketegangan antar kampung membuat gang Bagar jadi mencekam. Aku menjadi gelisah bukan kepalang. Betapa tidak? Dua hari lalu Akew anak gang Bagar tewas mengenaskan di keroyok dengan anak muda gang Senggol.
Malam ini rencananya anak gang Bagar tidak tinggal diam. Mereka akan membuat perhitungan dengan anak gang Senggol. Situasi memanas itu bisa dilihat dari wajah garang mereka yang dipasang dengan satrianya di tiap-tiap pos ronda. Mereka akan membuat perhitungan atas kematian Akew.

Awal pertikaian antar gang di kampung itu, karena Akew kerap memalak anak gang Senggol. Anak gang Senggol tidak menerima kelakuan Akew yang kerap mengganggu ketenangan mereka. Karena itu anak gang Senggol melepaskan kekesalan dengan menghabisinya secara secara massal.

Ketegangan antar kampung itu membuat warga menjadi tidak nyaman. Rumah-rumah semi permanen di perkampungan Dadap, yang merupakan terdapat komunitas Cina Benteng tidak lagi ramai seperti biasanya. Usai senja, pintu-pintu tertutup rapat. Demikian juga di gang Senggol, warga menutup rumahnya, bahkan sebelum matahari tenggelam.
Dalam kondisi tidak nyaman seperti ini, Aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar rumah. Tersiar kabar polisi akan melakukan sweeping untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku pembunuhan Akew. Namun kerap kali terjadi perkelahian, sepertinya polisi jarang mengusut. Kendati demikian, Aku harus keluar rumah, karena hari ini ada jadwal mengaji dengan Romlah. Romlah adalah teman dekatku. Sejak setahun lalu, aku tertarik dengan ajaran agama Islam. Dan setahun lalu aku memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa takut, aku bersiap untuk keluar rumah. Tepat pukul tujuh malam aku harus sudah berada di Mesjid At Taqwa yang terletak di gang Senggol. Pada Romlah dan Ustazah Neni, aku dibimbing mengaji dan memperdalam Al Qur’an.
Jadwalku mengaji pada Ustazah Neni seminggu tiga kali pertemuan. Beliau guru yang disiplin dan penuh dedikasi. Setiap mengajar selalu menanamkan rasa tanggungjawab pada diri sendiri dan lingkungan. Itulah yang membuatku tidak enak, apalagi kalau absen hanya karena alasan kekhawatiran adanya keributan susulan di kampungnya itu. Sebab hari ini Minggu terakhir untuk Ustazah Neni memberikan materi fiqih. Besok absen karena Ustazah Neni akan mengisi pengajian di Al Azhar Kebayoran Baru.

Menjadi seorang mualaf sudah menjadi pilihan yang matang. Sejak kecil aku dididik dalam lingkungan beragama Budha, namun perjalanan waktu, aku melepas suatu pilihan untuk berkeyakinan lain. Romlah adalah sahabatku sejak kecil, aku kerap melihat dan mendengar tata kehidupan muslim yang dianut Romlah.

Aku tinggal di Dadap, sebuah perkampungan miskin. Sebagian mayoritas warga Dadap adalah orang Cina Benteng. Mereka masih menjunjung tinggi tradisi adat istiadat dan budaya Tionghoa. Salah satu faktor yang menyebabkan mengapa tradisi, adat istiadat
dan budaya Tionghoa hingga kini masih tetap hidup dikalangan
masyarakat yang sering disebut sebagai Cina Benteng, adalah faktor sistim kepercayaan yang mereka anut sejak jaman generasi

pendahulunya atau kakeknya yang datang bermukim disekitar
Tangerang. Mayoritas masyarakat Cina Benteng adalah penganut
kepercayaan Taoisme, Konghucu dan Buddhisme.
Kecuali Buddhisme yang berasal dari India, Taoisme dan Konghucu
bersumber dan berasal dari Tiongkok. Kedua kepercayaan (Taoisme &
Konghucu) ini dianggap sebagai dasar dan fondasi utama peradaban
orang Tionghoa sejak dua milenium yang lalu, dan kepercayaan inilah
yang menjadi jangkar peradabannya. Tradisi ini tetap hidup dan hadir
dalam kehidupan orang Cina Benteng sehari-hari yang tak
terpisahkan, walaupun mereka sudah tidak dapat menguasai bahasa
Mandarin lagi, karena banyak yang sudah hidup lebih dari tujuh generasi
menetap di wilayah Tangerang.

Hadirnya tradisi kebudayan Tionghoa ini didalam masyarakat Cina
Benteng, dapat dijumpai dengan "meja abu" yang terletak didalam
rumah masing-masing, dimana para anggauta keluarga dapat
menjalankan ritual penghormatan kepada arwah atau spirit anggota
keluarga yang sudah meninggal. Arsitektur rumah kayu tradisionil
mereka juga mudah dikenali dengan konstruksi kuda-kuda atap
bangunan yang menyerupai konstruksi kuda-kuda atap kelenteng.
Kebudayaan mereka dapat dikatakan sebagai kebudayaan sub-kultur
Tionghoa yang unik, karena mereka tetap memelihara dan hidup dalam
alam budaya tersebut, tetapi tidak dapat berbahasa Mandarin dan
penampilan fisiknya juga lebih mendekati ke fisik penduduk pribumi
setempat dari pada fisik orang Tionghoa lainnya. Hal ini disebabkan
salah satunya oleh perkawinan campur antara masyarakat Tionghoa
dengan masyarakat pribumi lokal yang kerap terjadi.

Menjadi warga negara Indonesia dan sekaligus memelihara identitas
budaya ketionghoannya bukanlah dinilai sebagai dua hal yang saling
bertentangan oleh masyarakat Cina Benteng dan pribumi setempat.
Kedua kelompok etnis ini sudah hidup berdampingan dalam beberapa
generasi dengan damai selama lebih dari Dua Ratus tahun yang lalu, selama
perjalanan sejarah telah terjadi interaksi budaya dan akulturasi
diantara mereka. Seperti pada bidang seni suara, tari, panggung,
musik, instrumen musik, kostum, masakan, upacara perkawinan dan
sampai kepada konstruksi bangunan rumah.

Pada upacara pesta perkawinan, pasangan Cina Benteng ini, biasanya
dilakukan dua kali pesta. Hari pertama untuk tamu-tamu yang datang
dari masyarakat pribumi Muslim dan hari kedua untuk
masyarakat yang non-muslim (biasanya Tionghoa), hal ini dilakukan
karena perbedaan makanan yang akan disajikan. Bagi yang non-Muslim
biasanya disajikan panggang Babi Tangerang yang terkenal dan minuman
bir. Pada pesta perkawinan tradisional ini biasanya diramaikan juga
dengan musik Gambang Keromong (dengan lagunya yang populer
seperti, cinte manis berdiri, pecah piring, semar gurem dan onde-
onde, dll) serta tarian cokek yang umummya datang dari daerah
sekitar Kerawang. Dan pesta ini dianggap belum "afdol" kalau tidak ada
penari cokek yang sensual itu.

Proses interaksi dan akulturasi budaya ini berjalan secara alamiah dan damai selama hal itu tidak bertentangan dengan tabu-tabu budaya
tradisi lokal atau kepercayaan masing-masing. Pertukaran budaya
ini telah memperkaya kebudayaan masing-masing pihak dan menjadi
aset budaya Tangerang, sehingga Pemda Kota Tangerang menyelenggarakan
pesta-pesta budaya Tionghoa setiap tahunnya dalam festival
Cisadane, seperti pesta lomba Perahu Naga pada perayaan Pecun.
Perayaan Cap Go Meh juga dirayakan setiap tahunnya dengan dukungan Pemda Kota Tangerang.

Mungkin sebutan Cina Benteng dapat dikategorikan sebagai
nama "generik" yang mengacu pada pola budaya tertentu dan unik,
karena yang didefiniskan sebagai lingkup budaya Cina Benteng ini
tidak terbatas hanya masyarakat Tionghoa yang tinggal di wilayah
Tangerang saja, melainkan juga tersebar mulai dari Mauk, Tanjung
Pasir, Teluk Naga, Balaraja, Legok, Curug, Tigaraksa, Cikupa, Batu
Ceper, Serpong, Parung, Cileungsi sampai Jonggol. Pusat grafitasi
dan spiritual budaya "Cina benteng" terletak di Pasar Lama
Tangerang, dimana kelenteng Boen Tek Bio (Padumuttara) yang
dikatakan didirikan tahun 1750 berada.

Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Cina Benteng juga mengalami
gelombang pasang surut kehidupan. Pada jaman revolusi di
tahun 1946 telah terjadi gelombang pembunuhan massal yang kejam
terhadap warga Cina Benteng ini. Pada saat itu masyarakat Cina Benteng banyak yang mengungsi untuk
menyelamatkan hidupnya lari ke Jakarta. Dan sebagian ditampung di
gedung Sin Ming Hui (Chandra Naya).
Pada jaman Suharto, kami juga mengalami tekanan politis dan budaya
selama 30 tahun ini. Selama periode "Sinophobia", semua bentuk
ekspresi dan identitas budaya Tionghoa diharamkan, termasuk
masyarakat Cina Benteng, kami tidak dapat merayakan Pecun, Cap Go
Meh, main Barongsai dan lainnya. Bahkan nama-nama Kelenteng diharuskan
ganti nama dan tidak boleh beraksara Tionghoa lagi.

Tetapi Suharto dan pemerintahannya tidak berhasil untuk
menghapus ciri-ciri dan identitas budaya kami ini. kami
dengan pasif tetap mempertahankan identitas dan tradisi budaya
serta ritual kepercayaannya secara sembunyi-sembunyi, di rumah atau
di kelenteng, yaitu wilayah yang tidak dapat dikontrol langsung
oleh aparat pemerintahan Orde Baru.

Disini, kelenteng berperan dan berfungsi sebagai benteng sosial-
budaya yang terakhir dalam mempertahankan identitas kebudayaannya
serta memberikan perlindungan spiritual. Di dalam wilayah kompleks
kelenteng ini, mereka relatif bebas dapat mengekspresikan
kebudayaannya dalam batas-batas tertentu, seperti pertunjukkan
Barongsai dan Wayang Potehi. Ditempat yang sama pula generasi
muda Cina Benteng mewarisi nilai-nilai budaya masyarakatnya melalui
pendidikan dan pertemuan sosial yang kerap diselenggarakan dalam
kompleks bangunan tersebut.

Secara umum, mata pencaharian utama masyarakat Cina Benteng lebih
dikenal sebagai petani, nelayan atau peternak babi, walau
berpenghasilan rendah dan miskin, terutama yang hidup dipedesaan.
Di komunitas kami, banyak diantaranya tidak memiliki bukti kewarganegaraan Indonesia, (walaupun sudah hidup ratusan tahun di Tangerang), sehingga sukar
mendapatkan KTP, mendapatkan pekerjaan, atau nikah di catatan sipil.
Kondisi ini diperburuk lagi oleh tingkat pendidikan mereka yang
masih relatif rendah, sehingga terjebak dalam lingkaran setan
ekonomi. Jadi stereotipe mereka bertolak belakang dengan stereotipe
warga Tionghoa lainnya yang menjadi opini publik selama ini. Selain
itu mereka juga jarang mendapatkan fasilitas yang bersumber dari
program bantuan pemerintah.

Itu adalah pandangan umum terhadap masyarakat kominitas kami, Cina Benteng hingga sekarang. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman serta pergeseran
lapangan pekerjaan dari sektor tradisionil ke sektor modern, tidak
sedikit orang-orang Cina Benteng mencapai sukses dibidang usaha
atau profesi lainnya, menjadi pengusaha penggalian pasir, jasa
transportasi, peternakan unggas, tambak udang, kontraktor,
peternakan burung walet, industri kecil dan menengah, agen
kendaraan masih banyak lagi. Komunitas kami juga memasuki sektor tenaga kerja
profesional seperti dokter, pengacara, insinyur, ahli keuangan dan
ilmu pengetahuan (seperti Mona Lohanda yang berkerja sebagai
peneliti di LIPI).

Masa depan Cina Benteng memang cukup baik, karena lokasi geografisnya berdekatan dengan Jakarta, maka lokasi
kami lambat laun mendapatkan imbas dari perkembangan kota Jakarta
yang meluas dan merambah sampai ke Tangerang. Tempat-tempat yang
dahulu dikenal sebagai lokasi-lokasi pemukiman Cina Benteng mulai
terdesak dengan perkembangan kompleks perumahan modern, seperti
Lippo Karawaci, BSD, Alam Sutera, Citra Raya dan masih banyak lagi.

Perkembangan kawasan industri di daerah sekitar Tangerang juga
membawa perubahan kehidupan kami, lahan-lahan yang sebelumnya
digunakan sebagai sawah, kini telah dijadikan kawasan
industri baru termasuk perluasan bandara Soekarno-Hatta di
Cengkareng. Peternakan Babi juga sudah drastis dikurangi. Proses
perkembangan kota Jakarta, industrialisasi, modernisasi telah
mempengaruhi pola kehidupan kami. Generasi muda Cina Benteng
lambat laun telah meninggalkan sektor pekerjaan tradisionil dan
memasuki sektor modern yang lebih menjanjikan masa depannya.Tidak semua. Namun kami berusaha untuk itu.

Dengan perubahan ini, maka kami juga mulai menyerap dan
mengadaptasi nilai-nilai budaya modern yang kosmopolitan dan
universal sifatnya. Nilai-nilai dan tradisi lama Cina Benteng mulai
ditinggalkan secara lambat laun. Perubahan nilai budaya ini juga
terjadi ketika generasi muda pindah dari kepercayaan dan agama
tradisionil yang dianut sebelumnya (Taoisme, Konghucu, Buddha
dan Sam Kaw) ke kepercayaan lainnya seperti Islam atau Kristen,
seperti yang tak jarang terjadi selama ini sebagai akibat pendidikan
(pendidikan sekolah Kristen ) atau perkawinan dengan etnis lainnya
yang berlainan agama seperti Muslim. Perubahan ini akan berdampak atas kontinuitas
budaya Cina Benteng dimasa depannya.

Sampai kini, diketahui ada beberapa peneliti yang telah mempelajari
dan mendokumentasikan sosial-budaya masyarakat Cina Benteng ini,
tetapi belum ada yang resmi diterbitkan sampai sekarang. Tulisan
sejarah dan sosial-budaya tentang mereka juga masih bersifat
fragmentasi, belum didokumentasikan secara lengkap dalam bentuk
buku, sehingga dikhawatirkan akan dilupakan orang atau generasi
penerusnya dimasa depan.

Kebudayaan Cina Benteng adalah salah satu kebudayaan sub-kultur
Tionghoa Indonesia yang unik. Disebut unik, karena komunitas kami
dianggap "terlalu Pribumi kalau dikatakan sebagai orang Tionghoa.
Dan terlalu Tionghoa kalau dikatakan sebagai orang Pribumi",
seperti yang pernah dikatakan oleh wartawan kawakan Kwee Kek Beng
pada sebelum perang dunia kedua yang lalu. Komunitas kami adalah hasil
produksi dari sebuah sintesa dua kebudayaan (Tionghoa dan pribumi
lokal) dan merupakan bagian integral dan aset kekayaan dari
kebudayaan Indonesia yang majemuk.

Bagaimana dengan kontinuitas budaya mereka dimasa depannya? Apakah
arus perubahan dan modernisasi ini akan berdampak negatif akan
pelestarian budayanya. Ataukah akan mengalami revitalisasi di saat masyarakat berontak ingin adanya
reformasi ini ? Pertanyaan yang masih bersifat spekulatif ini
hanya dapat dijawab oleh generasi muda kami sendiri. Budaya
Gambang Kromong masih tetap dirindukan orang, ia dapat hidup
berdampingan dengan musik-musik rock yang modern secara harmonis.

Aku tidak dapat terlepas dari akar kultur itu. Untuknya aku ingin pelihara kebudayaan ini. Dan membangkitkan semangat komunitas kami. Semoga saja lingkungan kami yang tidak kondusif saat ini bisa bangkit kembali, hingga dapat rukun dan mewujudkan Cina Benteng berprestasi seperti Cina Kota di Jakarta sana.
Aku akhirnya memberanikan diri keluar rumah.
Malam di Dadap begitu mencekam, hanya sesekali terdengar keras suara kapal udara dari Bandara Sukarno-Hatta yang menggeliatkan perkampungan ini yang seakan mati suri. Dan aku pun melangkah.

Angin Dadap menerpa wajahku. Aku menelusuri sisi pepohonan, seorang diri aku berjalan menuju mesjid At Taqwa yang terletak di gang Senggol. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil. “Cinta!” Aku menghentikan langkah. Suara pria yang sudah tidak asing, kupicingkan mataku mencari suara itu. Tak lama sumber suara itu berada dihadapanku.
“Kamu mau kemana?“
“Masjid.“
“Mengaji, ya?“
Aku mengangguk.
“Cinta kamu memang tidak takut jalan sendirian seperti ini?“
“Habis mau bagaimana lagi. Sudah waktunya untuk mengaji.“
“Aku antar, ya?“
“Aku berani, sendiri“.
“Tidak baik anak gadis jalan sendirian, apalagi situasi saat ini lagi tidak nyaman.“
Tak kuasa aku menolaknya.
Pria itu bernama Fahim. Dia pria yang sangat disegani di kampung ini. Sikapnya yang ramah membuat orang menghargainya. Fahim anak dari bapak Haji Ramli sesepuh di kampung ini. Ibunya Melani, warga Cina Benteng.

Fahim pria yang unik. Kepadanya aku memanggil koko Fahim.
Ia seorang penganut Islam yang taat, keluaran pesantren di Gontor. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Quran. Diantaranya surat Yusuf. Sebuah surat yang mencerminkan kepribadiannya yang gagah dan tampan. Alim pula. Perbedaan usiaku lebih tua koko Fahim lima tahun. Belakangan aku memang dekat dengannya, setidaknya ketika koko Fahim tidak lagi nyantri, sebelumnya tidak begitu dekat, karena aku masih kanak-kanak saat itu.

Koko Fahim punya misi yang sama dengan aku. Ingin membangkitkan semangat kaum muda Cina Benteng menjadi lebih baik. Dari segi kebudayaan, pekerjaan dan harkat martabat. Termasuk menginginkan status yang sama seperti warga pribumi lainnya di sini. Kami bertekad, untuk berjuang, agar pemerintah harus peduli dengan status kewarganegaraan kami. Cukuplah komunitas kami menderita sampai di sini, esok kami bisa tertawa, bisa membangun negri ini dengan status yang sama seperti kaum pribumi lainnya, begitulah impianku selalu.
“Seharusnya memang kita tidak terpinggirkan seperti ini.” Kata koko Fahim bercerita padaku. “Kalau saja kaum Cina Benteng itu punya semangat, dan menununjukan eksistensinya.”

Aku sangat termotivasi dengan kata-kata koko Fahim. Dan bukan kali ini saja koko Fahim melontarkan kalimat itu. Dan aku semakin terpanggil untuk bangkit. Kami tidak mau terpuruk seperti kaum Cina Benteng masa lalu, hidup dengan kemiskinan dan dipandang sebelah mata, karena status kewarganegaraan kami yang tidak jelas pula.
“Koko Fahim berpikiran sama“.
Aku lihat ia mengangguk.

Kemiskinan di sini menumbuhkan kebobrokan moral. Mulai dari menjual diri hingga kerap bersedia kawin kontrak dengan pria-pria Taiwan. Ini sangat disesalkan! Semua aku dengar atasnama kemiskinan. Kaum perempuan di sini seakan-akan tak peduli dengan masa depan, mereka rela begitu saja menjual harapannya pada kepasrahan.

Dan Romlah adalah sahabatku, yang peduli terhadap komunitas Cina Benteng di Dadap, walau ia tidak punya kepentingan apapun sebagai warga pribumi. Namun semangat kepeduliannya membuat kekuatan jiwaku untuk berjuang bersamanya. Terutama menyelamatkan kaum hawa dari lubang portitusi dan penyakit sosial lainnya di sini. Itu pun belum mampu mengubah komunitas Cina Benteng di sini memiliki cahaya sempurna. Begitu berliku jalan setapak dilintasinya. Setidaknya dengan hadirnya Romlah dan koko Fahim, aku punya kekuatan moril untuk menumbuhkan semangat perjuangan ini.
***