Pintu Sudah di Buka

BUTIR air mata menghias bibir Yumi, seorang amoy dari warga keturunan. Ia baru saja di marahi ngkohnya, karena dianggap pekerjaannya tidak pernah beres. Yumi dianggap lalai menjaga toko emasnya. Dan... dikit, dikit sholat, dikit, dikit sholat.

Itulah sepenggal perjuangan Cina Mualaf.

Mungkin masih banyak lagi perjuangan yang samayang di derita Yumi dan Acong, yang baru memeluk agama Islam dan bekerja dilingkungan keluarga. Sholat dan usaha menjadi masalah yang serius. Karena orang Cina masih mengedepankan cari uang ketimbang ibadah sholat yang sehari lima waktu harus didirikan.

"Itulah yang membuat kami masih belum mampu menyatukan pikiran komunitas Tionghoa Muslim," kata Liem Chan Fei yang sejak naik haji berganti nama H. Abdul Karim F. Linggo. Beliaulah yang mengopeni komunitas warga keturunan yang hendak masuk Islam di masjid Lautze yayasan Karim OEI, di bilangan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Ada sekitar 21/2 persen warga Tionghoa di Indonesia yang muslim dari 15 Juta komunitas Tionghoa di Indonesia ini. "Namun, untuk menyatukan mereka kami masih mengalami kesulitan dari berbagai faktor kesibukan bisnis."

Masjid Lautze inilah, satu-satunya pusat penggalian ilmu Al Qur'an untuk pembelajaran bagi kaum Cina Muslim. Di sinilah tempat mereka masuk Islam dan mendapat tuntutan. Sepekan sekali mereka silaturahim mewujudkan muslim yang sempurna.