Cakrawala


Cina Mualaf, Merangkak sampai Senja

By. Hais dan tim




Matahari di ufuk timur tak gentarkan jiwa warga keturunan untuk berdakwah. Mereka adalahH. Abdul Karim, H. Yusman, Ahui, Budi dan Wondo. Mereka lebih Islam dari orang Islam yang sesungguhnya, padahal kalau dilihat dari latar belakang mereka, banyak yang memeluk agama Konghucu, Budaha dan Khatolik. Siapakah mereka?

Mereka adalahMualaf sejati. Mereka tidak pernah 'mati'. Perjuangan dakwahnya sampai hari sudah habis di makan kelam, mengajarkan tauhid dan nilai-nilai Islam.

"Allahu Akbar!" Bergetar hati kami ketika melihat keberadaanya.

Tidak seperti yang kita lihat nilai suatu kemewahan dari bentuk masjid yang di bangunnya sejak 1991. Masjid Lautze, yang terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat itu berbentuk ruko, dengan dominasi bangunan mirip klenteng Cina, dengan dasar merah. Tapi, masjid ini jauh dari kekokohan klenteng. Banyak atap bangunan itu pun yang sudah doyong dan nyaris roboh.

Ahui misalnya. Ia berjuang untuk dijadikan marbot masjid. Di depan masjid, pihak pengurus yayasan izinkan Ahui berjualan bakmi. "Katanya untuk memperoleh pendapatan sehari-hari.
Karena kami sudah berkeluarga," ujarnya.

Tiap pekan ini, masjid Lautze ini banyak dikunjungi Cina Mualaf dari Jabotabek. Asah asih asuh, tercipta dari pembelajaran yang namanya Al Qur'an. Kitab suci yang benar-benar mengajarkan manusia yang hakiki.

Pergerakan nilai Islam semakin tersudut pada pola pikir kapitalis. Manusia seakan-akan pemburu harta yang potensial. "Itulah sebenarnya musuh kami saat ini." H. Karim mengeluarkan curahan hatinya pada Hais dan kawan-kawan.

Sungguh setan dan Iblis tidak pernah lelah menjerat kita menjadi penghuni neraka. Ketika iblis selalu membisikan. "Tenang, besok masih ada waktu. Padahal itu semu. Tak ada waktu lagi buat manusia sesungguhnya, kecuali orang-orang yang mau bertakwa," ujarnya H. Karim membara.

---------------------------------------------------------------------------------------

Redaksi Warta Mutiara menerima Informasi Mualaf. Perjalanan kehidupan manusia yang tragis namun ikhlas. Sertakan Foto Pendukung dan kirim ke wartamutiara@gmail.com