Ketika Setetes Bensin pun Tiada
PAGI-cerah di Bogor mengusik kenyamanan kami. Matahari yang bersinar terang bikin hati curiga yang tak pasti. Semua seperti basa-basi. Lihatlah, betapa masyarakat dibuatnya sibuk dan panik ketika mereka harus kembali menjalani roda hidup hari ini.
Kaum lelaki harus rela menuntun sepeda motornya sekedar mencari 'setetes bensin'. Mereka harus menunaikan tugas dengan baik, namun terhambat pada kondisi yang menjebak.
Kemanakah bensin? Paska penurunan harga premium dari 6000 rupiah menjadi 5500 rupiah. Semua orang pun bertanya. Apa yang tengah terjadi wahai negriku. Dan hampir semua pom-pom pengisian bahan bakar seakan tak ramah dengan pelanggannya.
Lihatlah, seorang pria yang membonceng istrinya yang hamil tua, terlihat peluh diwajahnya. Dunia seakan-akan tak lagi ramah. Pria dan istrinya yang tengah mau melahirkan itu harus menelan pil pahit. Sudah tiga pom bensin di Bogor ini kosong.
Kulihat istrinya menahan pilu. "Sudah pembukaan tiga," triak suaminya pada petugas pom bensin. "Bantu saya walau sedikit saja".
"Kosong, pak. Benar kosong."
"Ini sudah tiga pom bensin aku cari. Tidak ada," kata pria itu agak menahan emosi.
Sang istri akhirnya berteriak ketika menahan mulas di perutnya. Dari dua kakinya sudah keluar ketuban. "Toloong... tolong! Istri saya mau melahirkan."
Suasana yang tadi tegang, berubah ramah. Semua orang terusik menolongnya. "Carikan angkot. carikan angkot. Tolong Ibu ini". Pak satpam pom bensin tiba-tiba menjadi komandan.
Ibu muda itu pun tak kuasa, ia dibaringkan di kantor SPBU dan tak lama melahirkan bayinya.
Fenomena apa? Wahai Pemerintah!!!
Kaum lelaki harus rela menuntun sepeda motornya sekedar mencari 'setetes bensin'. Mereka harus menunaikan tugas dengan baik, namun terhambat pada kondisi yang menjebak.
Kemanakah bensin? Paska penurunan harga premium dari 6000 rupiah menjadi 5500 rupiah. Semua orang pun bertanya. Apa yang tengah terjadi wahai negriku. Dan hampir semua pom-pom pengisian bahan bakar seakan tak ramah dengan pelanggannya.
Lihatlah, seorang pria yang membonceng istrinya yang hamil tua, terlihat peluh diwajahnya. Dunia seakan-akan tak lagi ramah. Pria dan istrinya yang tengah mau melahirkan itu harus menelan pil pahit. Sudah tiga pom bensin di Bogor ini kosong.
Kulihat istrinya menahan pilu. "Sudah pembukaan tiga," triak suaminya pada petugas pom bensin. "Bantu saya walau sedikit saja".
"Kosong, pak. Benar kosong."
"Ini sudah tiga pom bensin aku cari. Tidak ada," kata pria itu agak menahan emosi.
Sang istri akhirnya berteriak ketika menahan mulas di perutnya. Dari dua kakinya sudah keluar ketuban. "Toloong... tolong! Istri saya mau melahirkan."
Suasana yang tadi tegang, berubah ramah. Semua orang terusik menolongnya. "Carikan angkot. carikan angkot. Tolong Ibu ini". Pak satpam pom bensin tiba-tiba menjadi komandan.
Ibu muda itu pun tak kuasa, ia dibaringkan di kantor SPBU dan tak lama melahirkan bayinya.
Fenomena apa? Wahai Pemerintah!!!




























