Novelblog Bersambung "Biarkan Cinta Memilih" Hais Quraisi


BAB: TIGA

Imlek yang Sepi


Imlek akan tiba, namun suasana tidak segemerlap cerita lama. Krisis moneter yang melanda negri ini, telah membius warga Tionghoa untuk ikat pinggang erat-erat. Apalagi untuk komunitas warga Tionghoa pinggiran.


Ah lai, adikku di perayaan Imlek tahun ini impikan bisa membeli lampion, ia selalu melihat keindahan lampion di rumah-rumah penduduk di Petak Sembilan. Penuh kebanggaan.Walau lampion yang terpasang di rumah-rumah warga Tionghoa tidak selalu baru.


Sebelum moneter saja susah sekali untuk membelinya, apalagi krisis seperti ini. Semuanya masih menjadi impian Ah lai. Aku terkadang haru melihat kekaguman Ah

Lai dengan lampion itu. Beberapa toko di pasar Pagi lama, ada yang memamerkan aneka bentuk lampion. Lampion-lampion itu bertuliskan huruf Cina. Kata orang, tulisan-tulisan itu memiliki beragam makna, walau hakekatnya, doa mohon keberkahan di tahun yang baru. Namun ada juga yang percayai sebagai hoki.


Ah lai cuma memiliki angpau. Adikku ini memang seperti aku sebelum memeluk agama Islam, selalu utamakan angpau, yaitu amplop berisi uang yang diberikan sebagai pertanda berbagi rezeki saat tahun baru datang. Harapannya agar di tahun yang baru, rezekinya semakin mengalir. Angpau yang berisikan uang kertas seratus perakan selalu disisihkan untuk anak-anak tetangga.


Bila Imlek tiba, kami hanya memasang lilin di dalam rumah. Tidak ada kue keranjang di rumah kami. Tidak seperti terlihat di rumah-rumah warga Tionghoa, kue keranjang selalu tersedia.


Kami hanya mempunyai air putih dan dodol. Itu pun pemberian bu Yumi, tetangga kami semalam, yang juga dapat dari familinya di Petak Sembilan. Kendati demikian, Ah lai berdoa. Aku pun berdoa menemani Ah Lai dengan bapak. Hanya saja aku berdoa sesuai ajaranku sebagai muslimah. Hakekatnya aku mau berdoa untuk sebuah penghormatan adik dan bapakku.


Kami memang masih anut budaya Cina klasik. Seperti juga penganut konfusian, menempatkan bakti anak pada orangtua dan leluhurnya. Bagi kami itu semua sebagai konsep hidup utama. Disertai makna penting posisi keluarga, bakti kepada orangtua atau pun arwah leluhur menempati posisi paling tinggi.


Penghormatan kepada leluhur bukan saja tugas paling besar, melainkan juga kehormatan paling besar. Karena itu, terpisahkan orangtua atau pun moyang, karena kematian bukanlah akhir dari hubungan, melainkan justru sebuah peristiwa yang berlanjut dan akan mempengaruhi nasib keluarga yang ditinggalkan. Penghormatan dan pengorbanan kepada moyang diyakini membawa berkah dan kebaikan kepada keluarga.


Ah lai dan Bapak terus melakukan doa, hingga menjelang terbitnya matahari. Sementara aku terlelap hingga terdengar sayup-sayup azan Subuh terdengar. Seperti biasa aku menunaikan ibadah sholat Subuh, setelah itu kami berbenah, mandi dan berdandan.

1

Imlek tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya di kampung kami. Sekeluarga pun tidak ada yang merayakan lazimnya Imlek saat moyang kami hidup. Suasana berjalan seperti hari-hari biasanya. Namun yang membuat hari ini aku gembira, Fahim akan menjemputku untuk jalan-jalan ke Rawa Belong. Di kawasan Pasar Bunga Rawa Belong, aku akan diajak Fahim membeli ikan bandeng. Di tradisi warga keturunan, saat imlek seperti ini memakan ikan sudah menjadi kebiasaan kami. Ini juga tidak terlepas dari kepercayaan mereka. Makan Ikan bandeng saat imlek, dimaksudkan agar kita selalu dilimpahi rezeki Dalam bahasa Cina, ada kata-kata nian you yu, yang artinya selalu lebih, dalam tulisan yang berbeda tapi sama pengucapannya, juga berarti ikan. Karena itu, agar tetap dikaruniai rezeki berlebih, setiap tahun warga Tionghoa menyantap ikan.


Fahim memang pria yang tidak pernah ingkar janji. Ia selalu datang tepat waktu. Aku suka pria seperti dia. Wajahnya tampan, pribadinya menarik dan tutur bahasanya pun santun. Padahal Fahim dulunya nakal, suka bikin onar. Bapaknya Fahim yang muslim itu, telah membentuk kepribadian pria ini di pesantren.


“Assalammualaikum..... Cinta.”

“Waalaikum salam, bang Fahim,” jawabku. Sungguh, aku senang sekali dengan kedatangan Fahim. Imlek yang biasa-biasa saja ini, tiba-tiba menjadi luar biasa.

“Masuk, bang! Maaf, ya rumahnya gubuk.”

“Kamu ngomong apa, Cinta.”

Aku diam saja. Tidak lama aku langsung saja mengajak Fahim untuk jalan. Kami langkahkan kaki menuju mobil tua Fahim. Karena Fahim memang janji mau jalan-jalan dengan mobil Fiat.


Mobil Fahim memang kecil, termasuk langka. Antara Fahim dengan aku duduk tidak terlalu renggang, karena mobilnya juga kecil. Namun demikian, mobil Fiat milik Fahim kabarnya tidak pernah mogok. Mesinnya selalu terawat dengan apik. Dalam perjalanan kami ke Rawa Belong, banyak canda tawa. Karena bang Fahim memang pria yang ceria dan humoris.


Kepingin sekali aku menjadi kekasihnya. Tapi... apakah mungkin. Fahim begitu sempurna dalam penilaianku. Tidak sanggup aku membayangkan hidup bersama pria ini. Penyabar dan pengasih. Sudah aku buktikan dalam tindakan sehari-hari pria ini.


“Kok bengong!”

Fahim menyentak lamunanku. Tentu saja aku menjadi gelagapan. Aku berusaha untuk terlihat manis di matanya. Senyum ku hadiahkan pada pria ini. Fahim yang melihat senyumku seperti bahagia sekali.

Pasar Rawa Belong begitu cepat tiba. Aku hampir tidak percaya.

“Mari nona, kita pilih ikan bandeng di sini”.

Tangan kekar Fahim menjemput tanganku. Jantungku berdetak lebih kencang. Aku pun bangkit dari dalam mobil itu. Kami berdua menuju para pedangang ikan bandeng yang menyeba mulai dari pasar kembang sampai jalan raya Batu Sari.

Tradisi jual ikan Bandeng di Rawa Belong ini sudah berlangsung sejak zaman Belanda. Ikan yang dijualnya pun segar-segar. Sesuailah dengan harganya yang mahal. Kalau aku sendiri ke sini, wah harus menabung berminggu-minggu dulu, kali, ya. Untung saja sebelum Fahim mengajak aku kemari, dia sudah bilang akan membelikan ikan untuk keluargaku.

2

Di pasar Rawa Belong ini, bandeng-bandeng yang ditawarkan berbeda dengan bandeng-bandeng yang biasa dipasarkan setiap harinya di pasae-pasar tradisional. Perbedaannya terletak pada ukuran bandengnya. Biasanya ukuran bandeng yang dijual seberat setengah kilogram per ekor. Sedangkan menjelang perayaan Imlek, mulai dari satu kilogram hingga sepuluh kilogram per ekor. Bayangkan ukurannya hampir sama dengan berat anak umur enam bulan.


Di pasar Rawa Belong ini, tidak hanya orang Cina yang membeli ikan bandeng, tapi banyak juga orang pribumi. Biasanya orang Betawi punya kebiasaan membeli ikan bandeng untuk mengantar pada orang Cina yang menjadi kerabatnya.

Bersambung

Kritik dan saran bisa sampaikan ke 08561858610 atau ke hais@ymail.com