Bunga segar enak di pandang, bunga layu siapa mau? Pribahasa itu mengingatkan aku pada sosok wanita, yang kerap terlihat begitu solek memandang hidup. Kaum wanita bagai ditengah tepian, bisa bertahan sampai hayat, bisa jatuh dikandung badan.
Tapi siapakah wanita itu? Wanita adalah fondasi. Kaum wanitalah yang mewarnai hidup ini, tapi siapa nyana. Kaum wanita juga yang merasakan segalanya.
Fitria; Idola Di luar Rumah
Aku ini memang belum menikah. Aku berpikir menikah itu faktor lux,
Fitri, yang bekerja sebagai reporter TVRI itu melihat, pria harus punya pikiran lurus ke depan. Kita harus melihat sosok dari sekarang. Jangan sampai liar, dan melihat pria lain di luar rumah.
Fitri anggap ini percaturan hidup yang gamang. kita bisa kah memainkan roda hidup itu yang be
nar, jangan sampai patah di tengah jalan. "Berat memang. Aku ingin punya suami yang setia. Mungkinkah," katanya dengan mata menerawang.
Sri; "Aku Ayah Sekaligus Ibu"
Sudah lama, saya sendiri. Anak-anak saya yang asuh. Dari mulai kecil-kecil hingga sekarang sudah besar. Saya pahami, inilah resiko kehidupan saya.
Begitulah, keluh kesah Sri ditinggal sang suami yang kabarnya menikah lagi. Tapi dia digantung dan tak lagi peroleh nafkah.
Siang dan malam ia jalani roda hidup ini. Siang bekerja, malam mengurus anak-anak. Tapi, dari wajahnya, Ibu dua anak ini selalu ceria. Tak pernah dia loyo atau pun berputus asa.
"Semua roda kehidupan sebenarnya sudah ada yang putar, kita yang jalani."
Di Tinggalkan Suami Tercinta
Aduh, saya belum bisa melupakan ini. Kata, Ibu dua anak bernama Dea. Wanita ini baru saja ditinggal suami t
ercinta. Suami yang terpincut dengan wanita lain. Suami yang dulu hangat, kini sudah tidak lagi hangat.
"Saya berusaha untuk melupakan dia. Tapi, tidak bisa. Saya pun digantung mas. Suami tidak menceraikan juga tidak memberi nafkah anak-anak. Kami jadi terlantar."
Tapi, Dea masih punya semangat. Di temui di kawasan Sudirman, Jakarta. Wanita ini bersahaja. Ia seperti ingin lupakan masa lalu itu. Melupakan kenangan itu.
"Saya berusaha untuk melupakan dia. Tapi, tidak bisa. Saya pun digantung mas. Suami tidak menceraikan juga tidak memberi nafkah anak-anak. Kami jadi terlantar."
Tapi, Dea masih punya semangat. Di temui di kawasan Sudirman, Jakarta. Wanita ini bersahaja. Ia seperti ingin lupakan masa lalu itu. Melupakan kenangan itu.
Mentri Peranan Wanita RI, Mutia Hatta; "Ini Faktor Kawin Tanpa Pilihan Tepat"
Ibunda kita ini
Bunda Mutia turut angkat bicara. Banyak kaum pria yang tinggalkan kaum istri, kare na, pernikahan yang terlalu cepat di putuskan. Seharusnya bisa ditimang-timang. mana yang baik. Benarkah ia punya latar belakang yang bagus.
Faktor luka hati bagi wanita, karena dua hal. Pertama adalah kemiskinan dan kebodohan. kalau saja faktor itu terkikis, mungkin tak ada lagi ranting yang patah.




























