Berita Duka Kami

-------------------------Lalu yang Berlalu-----------------------------

Rabu sore aku dikejutkan atas kematian Lalu Suparman. 22 Januari 2009 tentu hari yang tak pernah kami lupa. Kepergiannya mungkin hal biasa. Namun, ketiadannya yang bikin aku tak percaya.


Lalu, adalah sahabat kami sebagai seorang jurnalis. Di kalangan wartawan senior di lingkungan kepolisian siapa yang tidak mengenalnya. Mulai dari wartawan, bintara polisi sampai petinggi Polri. Usia aku dan Lalu mungkin jauh. Bagai seorang bapak dan anak. Namun, pergaulan almarhum tidak pernah ada perbedaan. Usia yang sama dan jauh lebih tua dari almarhum tetap hangat dan bersahabat.

Karena tawanya yang khas, tutur bahasanya yang santun, inilah yang menjadi figur khas pada ayah dua anak itu. Terlebih, Lalu pernah sekelas di Lombok dengan kakak sepupuku Rauf waktu mereka sama-sama duduk di SD bikin kami memiliki hubungan primodial.

Sapuji sahabatku di balai wartawan Polda Metro Jaya juga memiliki perasaan sama denganku. Begitu kehilangan Lalu Suparman. Karena antara Aku, Sapuji, Salim, Sri dan komunitas lainnya di Balai Wartawan kami tiada mahjab.

Sulit dipungkiri, ketiadaan yang mendadak karena Jantung Koroner menistakan kenyataan. Karena Bang Lalu, begitu kami memanggil pria tambun itu, adalah seorang pelatih tenaga dalam ‘Mahatma’.

Bang lalu kerab promosikan aktivitasnya itu diluar sebagai wartawan. Bermaksud kami menjadi anggotanya, yang kerab dapat menjaga kemungkinan dari berbagai penyakit. Tapi, bukan aku saja yang tidak percaya. Teman-teman yang mengenalnya almarhum sebagai pelatih Mahatma hampir tidak yakin beliau pergi begitu cepatnya.


Melayat
Teman-teman wartawan saling mengulurkan tangan memberi uang duka pada keluarga almrhum Lalu Suparman. Ditandai dengan pelayatan ke rumah duka yang terletak di Tegal Alur, Cengkarenag, Jakarta Barat.

Di komandoi Ketua Forum Wartwan Polri (FWP), Marolop, atas sumbangsih Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, kami di pinjamkan mobil milik logistik Polda Metro Jaya.

Hampir Tiga Puluh jurnalis Polri yang dekat dan mengenal almarhum berangkat ke rumah duka. Rumah yang tidak begitu besar, dan berada di gang sempit dengan jumlah penduduk yang padat Lalu Suparman tinggal.

Kami sebelumnya mengalami kesulitan untuk mencari alamat almarhum। Namun, ada seorang rekan kami yang pernah tahu ke rumah almrhum, sehingga tidaklah sesulit yang kami bayangkan sebelumnya.

Sesampainya di rumah duka, kami disambut istri dan dua anaknya. Memang tidak kami temui jenazah di sana. Menurut Dewi, anak Sulungnya. Sang Ayah meninggal Rabu siang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng. Setelah sempat dirawat satu malam. Sore, jenazah dibawa pulang ke rumah duka. Dan malamnya langsung di makamkan. Kehadiran kami di rumah duka sama sekali tak lagi melihat kesibukan penguburan. Semua sudah diselesaikan Rabu itu juga. Dan dibantu banyak tetangga dan para peserta organisasinya.

Lalu Suparman wafat di usia ke 54 tahun. Redaktur wartawan KP ini, juga semasa hidupnya aktif mengkordinir kegiatan anak-anak yatim. Dan memberikan fasilitas dan pembiayaan anak-anak yatim-piatu di lingkungannya.

Karena itu pula, mantan RW di lingkungannya itu, mendapat tempat semasa hidupnya. Disegani dan dihormati. Sampai pada takdirnya ia harus kembali kepada yang Maha Pencipta. Semoga arwah almarhum di terima sesuai dengan amal kebajikannya. Amin! Selamat jalan Abangku, selamat jalan sahabatku, kala kami pernah suka dan duka.
--------------------------------------------------------------------------------------------------