------------------------------------Kalam For Cinta---------------------------
Hais Quraisi
Kafka, seorang broadcaster. Ia bekerja sebagai perancang program di radio swasta. Ia juga memiliki hobby menulis dan fotografi, yang ia tuangkan di dalam blognya. Ia juga aktif sebagai penulis di media-media cetak dan elektronik. Hobbynya berkutat di dunia maya, mendekatkan Kafka sebagai bloger mania. Ia sangat memiliki kepudulian pada sosial dan lingkungannya, yang secara telanjang kerap ia muntahkan lewat blognya.
Kafka banyak memotret sisi-sisi kehidupan manusia. Di lapisan masyarakat saat ini , blog sudah menjadi nafas kehidupan. Dari sentuhan tangan para bloger mania ini, blog mampu menjadi tempat berbagi. Warta Mutiara adalah nama blog milik Kafka. Blog ini di disaint dengan sentuhan hati Kafka yang dalam, hingga blog yang dirawatnya itu memiliki komunitasnya sendiri.
Lama sudah Kafka aktif sebagai bloger. Lewat blognya ia bisa berbagi suka dan duka. Berangkat dari blognya Kafka dapat membangun kepercayaan komunitasnya, termasuk membangun bisnis di dunia maya. Warta Mutiara adalah blog yang mengundang pengunjung untuk melihat sisi kehidupan. Baginya hidup bukan untuk berpangku tangan, tapi harus dijalani. Hidup harus dituntaskan dari tuntunannya. Karenanya Kafka motokan blognya sebagai ‘Blog Pembangun Jiwa’.
----------------
. Pendeknya berbagai hal tentang dunia bloger mania.
Sampai suatu saat Rahma utarakan hasratnya untuk aku menuliskan apa-apa yang yang tengah ia alami dalam rumah tangganya. Sesungguhnya aku pernah tersirat untuk menuliskan tentang Rahma pula untuk edisi Hari Ibu tahun lalu. Urung, karena kesibukanku. Antara aku dan Rahma bagai kontak saja. Gayung bersambut ketika kami berjumpa. Dan istriku justru mengamini.
Rahma di sini mencurahkan perasaannya padaku, untuk ditulis.
“Serius, teh.”
“Ia pak!” Kata Raham yang kerab memanggilku pak Hais.
“Ok, deh! Tapi tidak apa-apa sama suami?”
“Justru saya ingin tuangkan uneg-uneg ini. Saya ingin berbagi, pak.” Rahma menekan suaranya.
“Mmm... boleh juga... Buat Novelblog, ya ?”
“Terserah, bapak. Saya tidak keberatan pak Hais tulis.” Katanya.
Wajah Rahma berseri-seri. Dia ingin deritanya bisa dijadikan sebagai kenangan. Sebagai manifestasi perjalanan hidupnya yang luka. Sebagai ibu rumahtangga yang baik ia jalani. Namun, tidak sama konsekwensi yang baik di jalani dengan apa yang Rahma terima. Bersama sebut saja Rangga, suami tercintanya yang justru kerab menghantui setiap denyut nadinya. Namun tak kuasa ia suarakan dengan kata-kata sekali pun.
***
Dalam kisah Rahmai, kami tidak bisa plek tuangkan! Sebab setelah pertemuan itu, tidak mudah juga menemui Silsi. Selain sisi sibuk mengurus tiga anaknya. Saya tidak mampu untuk menemui Rahma di rumahnya.
Rumah istri kapten pelaut ini, tidak sekedar rumah biasa. Dari jalan menuju rumahnya saja, terlihat begitu tinggi tembok mepagari rumahnya. Bagaimana dengan pintu rumahnya? Selalu tertutup. Di garasi terpasang alat rekam kamera, untuk menditeksi tamu, termasuk juga telpon rumahnya yang di sadap dengan alat tertentu. Ini sudah aku buktikan, ketika menelponnya, sang suami mendeteksi dari lautan sekali pun.
Pendek kata, aku belum bisa menghubungi Rahma lagi. Guna memenuhi hasratku menulis Novelblog ini, aku jadikan perjalanan hidupku saja sebagai bloger, dengan menampilkan berbagai potret kehidupan, salahsatunya kisah rahma ini. Novel blog ini akhirnya tidak sepenuhnya kutuangkan sebagai kisah nyata, lebih pada perpaduan fiksi dan realita, karena pelbagai faktor. Kendati, kami tidak menghilangkan esensi realita kehidupan yang saya potret, justru lebih bermakna. Cobalah ikuti ceritanya.
***
Aku mau ketawa rasanya melihat isi blog temanku, lucu! Ini terlihat dari disainnya yang menarik. Blog itu berada di Blogsome. Ia namakan Senyum Pelit Blogsome dot Com. Tapi yang singgah ke blog itu justru menjadi tidak pelit untuk senyum. Bahkan bisa lebih dari senyum. Ketawa. Bahkan ngakak! Ha... ha.... ha.... !!!
Bagaimana aku tidak ngakak. Pertanyaannya, kuda lari pakai apa? Tebakannya, tentu pakai kaki. Eh, ternyata jawabannya salah. Yang betul pakai pecut!
Pemilik blog itu bernama Zuhdis, mahasiswi tingkat akhir di Fakultas Sastra. Aku tidak banyak mengenalnya, tapi aktif ber-YM ria di massenger .Terus terang saja. Aku baru dua tahun aktif menjadi bloger. Awalnya aku punya situs pertemanan di frendster, lalu meningkat punya webblog lain di blogspot. Ini juga karena aktif dengan Forum Sastra Bogor (FSA), komunitas kepenulisan para muda-mudi pencinta sastra. Tapi aku baru mengenal benda canggih ini Empat tahun sebelumnya. Belajar serius mendalalami blog, karena sebagai wadah kreatifitasku sebagai mahasiswa jurnalistik.
Mulai internet-ria, ketika aku sebagai wartawan freelance media cetak dan elektronik Pengiriman berita menjadi lebih cepat dan mudah sampai ke tangan redaktur-redakturku. Media Jobku bukan hanya di Jabodetabek, melainkan di Bandung, Semarang, luar Jawa bahkan Mancanegara.
Kontribusi berita menjadi lebih cepat, kirim foto bisa lebih hemat, karena tak lagi mencetak seperti jaman dulu. Aku harus berterima kasih pada Fauzan, teman diskusiku di radio tempatku bekerja. Dialah yang membuatkan aku alamat email di yahoo. Kami sering jumpa di kantin gedung kantorku ketika Fauzan sering ngenet dengan notebook, dan memanfaatkan hotspot yang difasilitasi perusahaan. Kemudian, mulailah aku mengenal milis atau mailing list, semacam komunitas di dunia maya. Milis Ilovebogor.com yakni komunitas urang Sunda Bogor adalah tempatku belajar bersosialisasi dengan para anggotanya.
Mulailah aku mengenal chating dengan YM. Lalu ke Frendster dan yang ngetren lagi Facebook. Tapi masih sepekan tiga kali kulakukan, mengingat tarif ngenet lumayan mahal. Waktu itu masih mengandalkan gajiku sebagai reporter dan anouncer di radio Suara Metro.
Menariknya dari dunia maya ini, acapkali aku dibuat tertegun-tegun, terpesona dengan berbagai hal yang tak pernah ada dalam benakku. Bayangkan saja, dengan kirim bahan berita ke redaksi penerbitan media bisa dengan hitungan detik saja. Kita juga bisa menyebarkan berita, karya melalui milis, dalam sekejap segera direspon. Anggotanya dari pelosok negri ini, bahkan sampai pelosok dunia sekali pun.
1.
Sampai saat ini pun, kalau di wartamutiara.blogspot.com muncul komentar atas tulisanku dari kota nun jauh di Texas, Den Haag, Swedden, China bahkan Dubai... pelosok Makassar, Medan, Cimahi, Jakarta, bahkan Bogor.. (eheem!).
Sampai aku tidak habis berpikir, bagaimana kecanggihan zaman ini atas teknologi. era globalisasi yang mampu menyederhanakan komunikasi seorang manusia dari satu belahan bumi ini dengan belahan bumi yang lain. Semua tanpa batas!
Andaikan saja kondisi ini tidak dimanfaatkan betul. Sungguh meruginya kita. Karena teknologi dunia maya ini telah menyatukan berbagai hal menjadi suatu yang bikin kita mudah.
***
Warta mutiara adalah blog yang dikunjungi perhari lebih dari ribuan pengunjung. Aku membuat blog ini bukan tanpa perjuangan. Semua membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan biaya ngenet yang tidak sedikit. Maklum biaya kehidupan yang tinggi bikin semua harus bisa aku atur keuang
an dengan baik. Entah datang kiriman dari radio maupun dari honor kerjaku sebagai kontibutor media.
Warta Mutiara tercipta karena kondisi ekonomiku tidak stabil, aku ingin menuangkan semangat hidup lewat blogku. Waktu itu blog itu masih sederhana. Disain yang polos dan tulisan tanpa foto.
Sebelum memiliki blog Warta Mutiara, aku aktif di FS (Frendster), sebagai ajang mencari teman yang akhirnya migrasi ke Facebook. Aku mendalami dunia maya ini bukan tanpa ranjau. Di sengaja atau tidak. Mereka yang maniak, kelompok yang mudah terhasut untuk masuk dalam multi konflik. Budaya, sosial, politik, psikologi dan moral. Bila tidak sadar, kita terjebak dalam dunia itu.
Aku mungkin berada di dalamnya. Aku terperangkap dalam blog mania. Aku tidak terlalu matang untuk berada di batas tipis imajinasi dan pengalaman nyata, hingga menemukan berbagai karaker psikopat cyber. Untung aku cepat tersadar sehingga paham dengan trik-trik sihir para hipnokrat cyber yang mudah membuai kita.
Tapi aku akui ngeblog itu menyenangkan, tiap waktu kita terpicu untuk menulis, menulis, dan menulis. Lewat blogspot, yang kuberi alamat di wartamutiara.blogspot.com aku mampu menciptakan komunitas sendiri. Seperti yang tertera di laman pertama, aku rutin mengisi Warta Mutiara dengan mengisi kisah-kisah hidupku. Berkembang pada potret kehidupan di sekelilingku dan meningkat berbisnis hingga menjadi andalanku sekarang.
Untuk urusan berbisnis di blog ini, aku banyak belajar dari boger-bloger komersial. Terutama dari Ikhsan, Joko dan Faisal. Mereka inilah yang tak pernah jemu mengajariku bagaimana memilihkan foto menarik, resensi iklan dan login di advertesing online dan offline. Memperkenalkan blog dengan komunitas mailinglis Tanah Air dan Mancanegara.
Nge-blog bukan sekedar memenuhi hasrat menulis, tapi lebih pada itu. Aku banyak belajar tentang berbagai hal, terutama networking. Saat itulah aku baru tahu bahwa tulisan yang kupublikasikan di wartamutiara.blogspot.com tentang hubungan gelap rektor dengan mahasiswi menjadi perbincangan tak sekedar di dunia virtual.
Hubungan gelap mahasiswi dengan seorang rektor di kampus dulu kenyam ilmu, bikin naluri jurnalistkku membara. Aku terus menemukan jawaban yang bikin hatiku gulana. Febby yang menjadi korban mengaku dipaksa, karena barter dengan uang semesteran.
Tulisan yang menyentuh itu, kupublikasikan di http://wartamutiara.blogspot.com. Karena keberadaanku diketahui oleh pengunjung blogku dari kalangan kampus, mereka merespon jurnalku. Terus begitu, dari satu kontak ke kontak lainnya. Jaringan komunikasi melalui dunia maya sungguh dahsyat!
Dalam waktu singkat mengundang kehebohan, terutama di kalangan kampus, dosen dan rektor. Terutama yang merasa sebagai pelaku, sehingga memandang perlu menegurku. Aku suka karena lewat blog bisa bikin heboh. Artinya blogku mampu memberi pengaruh sosial. Tapi aku khawatirkan bila terkena dampak globalisasi teknologi ini.
Saat itulah aku membuat tulisan yang sensasional, hingga mengundang banyak temanku membuka warung online sebagai tumpangan. Hasilnya juga lumayan. Dagangan mereka laris. Aku pun kedapatan fee, ada juga yang sebelumnya ku patok dan yang gratisan tak kalah banyak, terutama kegiatan sosial yang membutuhkan publikasi
***
Berbicara tentang perasaan, dulu aku mengira, perasaan-perasaan tak akan pernah terlibat dalam komunikasi lewat blog. Karena kukira juga hanya menuangkan perasaan belaka. Tetapi setelah kujalani, perasaan yang ada juga bisa menjadi ladang bisnis. Mereka tertarik karena penuangan perasaanku, selain membaca juga minta buka lapak di lamanku.
Sekarang aku justru memelihara perasaanku, sikap rasional ternyata mampu terkelabui dalam dunia maya. Sehingga aku menyimpulkan sesuatu yang tak riil bisa menjadi nyata, bahkan secara emosional sekali pun.
Komunikasi lewat blog macam ini, ternyata bukan komunikasi yang sama sekali baru. Ada unsur dan pola yang sama dengan bentuk-bentuk komunikasi dan hubungan yang sudah kita kenal sebelumnya. Tapi tentu komunikasi lewat blog punya sifat yang khas, yang tidak kita temukan dalam pola komunikasi dan hubungan tradisional.
Blog mampu memberi peluang kepada kita untuk berkomunikasi secara anonim. Dengan berlindung dibalik jaringan internet, kita bisa menjadi siapa saja. Atau bahkan tidak menjadi siapa-siapa. Setidaknya, kita merasa seperti begitu. Kini dunia cyber bukan hanya pelabuhan kegundahan, lebih dari itu bisa menjadi perpanjangan dari kulit wajah kita.
Bila kita memperoleh email, dari tulisannya kita dapat melihat merahnya wajah seseorang dari belahan dunia lain. Karena sedang mencurahkan emosinya pada kita. Dari tulisan yang lain kita bisa merasakan ketulusan seseorang pada kita pula. Dari email yang lain, kita bisa memperoleh rezeki dari apa-apa yang kita tawarkan. Simbol-simbol dan bahasa yang kita ciptakan untuk menyertai teknologi itu telah memberikan kita pemahaman baru mengenai kehadiran lain dihadapan kita.
***
Tamu banyak yang singgah ke blog kita selain link pada komunitas lain, kita juga harus rajin memperbarharui blog kita. Tidak sekedar tulisan, tapi foto, resensi, musik, vidio... pokoknya kita harus kreatif. Bila sudah menciptakan blog yang menarik, blog kita tentunya dalam waktu singkat akan banyak dikunjungi tamu.
Aku sekarang lebih pada ajakan untuk memaknai semangat hidup pada pengunjungku, yang terbentuk menjadi komunitas. Aku bagai ikon dalam blogku. Mereka begitu mengikuti tentang apa pun yang aku gambarkan. Dari mereka, aku bisa mengetahui apa yang sedang mereka rasakan.
Seorang pengunjungku bernama Rani, ia remaja belasan tahun. Masih duduk di kelas Dua SMA. Dalam perjalanan waktu, ia tidak bisa sekolah lagi, karena harus berada di rumah sakit, karena kerab cuci darah. Ia bilang, penyakitnya sangat pilu. Ia tidak ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.
Suatu katika aku mengunjungi Rani di Jakarta. Memang memprihatinkan. Rani harus minggat dari rumah sakit itu karena orangtuanya tak sanggup membayar. Setelah aku melihat bagaimana derita yang Rani jalani, aku menceritakan dalam blogku. Dalam waktu singkat, pengunjung blogku banyak membantu biaya Rani.
Waktu itu Rani berterimakasih padaku. Termasuk kedua orangtuanya yang hanya pegawai honorer di departemen pemerintahan. Aku sempat beberapa kali mengunjunginya hingga Tuhan berkata lain dalam jalan hidup Rani.
Tapi inilah konsekwensi bloger, mau atau tidak mau akan menjadi pelabuhan untuk persinggahan orang lain, lama atau pun sebentar. Kita tidak bisa terbebas dari problem-problem yang muncul dari fenomena yang kerab datang. Bahkan perselingkuhan dan pengkhianatan adalah gambaran lain yang mungkin terjadi di dunia maya ini.
Seorang bloger, tidak bisa terhindar dari segala romantika maya, bahkan masuk dalam dunia yang nyata. Romantika itu tidak selalu menjadi junjungan yang bisa dengan gampang kita sasar atau kita hindarkan. Terkadang dia seperti lenyap bersembunyi entah dari mana saat kita cari. Cinta selalu hadir di mana saja, di dunia apa pun yang tidak bisa di batasi dengan aturan apa pun.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------- ----------------------------------------
Episode ‘Kalam For Cinta’
Keramik Batam dari Rahma
Rahma tiba-tiba menelponku. Ia menawarkan keramik
yang di bawa dari Batam oleh adiknya Sani. Keramik yang bagus, ditawarkan padaku dengan harga miring. Karena keramik itu dibawa tanpa tangan pelantara.
Aku tertarik bukan hanya keramiknya. Tapi juga karena Rahma menelpon aku. Aku membelinya juga karena Rahma menalanginya. Dan Rahma baik kepadaku karena memang kami saling membuka diri.
Siapa kah Rahma? Rahma adalah istri kapten pelaut. Ia tinggal di Depok. Kami belum lama mengenalnya, tapi sudah begitu dekat. Rahma adalah istri kapten pelaut yang ramah. Ia tidak pernah aneh-aneh. Selayaknya isu istri pelaut yang suka mencari pria lain di saat suaminya berlayar.
Tidak demikian dengan Rahma. Wanita berjilbab ini selalu menandai kewanitaannya dengan keimanan. Prilakunya yang santun, dan langkahnya yang positif, beberapa kali kami menyingkap lingkungannya, Rahma tidak terdengar isu negatif.
Peraduan Hati
Rahma suatu hari datang pada hatiku yang rapuh. Aku senang sekali. Karena sedikit aku dapat mengobati hati yang tergores luka dengan Zuhdis, adik kelasku yang kini masih menimba ilmu di fakultas sastra, kampus Merah Delima.
Zuhdis adalah adik kelasku yang juga sahabatku. Kami saling berkomitmen dekat, namun terganjal pada kondisi, di mana Zuhdis harus dipinang, kekasihnya. Sang kekasih memberikan ultimatum untuk memilih antara aku dan dia. Zuhdis akhirnya memilih kekasihnya, dan aku pun ditinggalkan.
Rahma bukanlah Zuhdis. Rahma adalah Rahma. Wanita yang telah beranak dua. Dan mengurus satu anak yang dipungut suaminya dari seorang perempuan, yang bekas dan mungkin masih menjadi kekasihnya.
Pada kerinduan denting kehidupan. Rahma tak mampu lagi meletuskan emosinya yang dalam. Hampir lima tahun pernikahannya membawa petaka yang tak pernah usai. Perlakuan sang suami padanya telah melukai kisi-kisi hatinya yang paling dalam.
Suara yang menggelegar dan kekarnya tangan Rangga, bukanlah mampir di pipinya sebagai bentuk kasih sayang. Tetapi bentuk kekerasan terhadap dirinya sebagai seorang istri. Kekerasan terjadi, bisa terpecik dari hal-hal yang kecil hingga menjadi sangat serius.
Kasih sayang Rangga sungguh mengotori hati cinta suci Rahma. Luka yang kerap tak pernah bisa kering itu, terus ditempa hujatan yang tak pernah berakhir. Tak ada pembelaan yang Rahma rasakan. Pada dirinya sekali pun untuk sebuah pembelaan dari tuduhan yang kerap tidak beralasan.
Darah dan air mata, sudah tak lagi basah, karena keganasan Rangga. “Sudah lelah aku tersiksa.” Begitu Rahma mengukir hatiku. Iba aku dibuatnya. Hanyut dalam empatiku pada deritanya.
Aku namun tak dapat banyak berbuat. Kecuali aku menyarankan untuk dia berpisah saja. Atau bahkan bertindak, bila kekerasan terus menghujam dirinya. Karena yang aku dengar dari pengakuan Rahma. Ramdan bukan saja suami yang kasar, tetapi suami yang senang bermain perempuan lain. Bahkan memasungku untuk tidak boleh bersosialisasi dengan lingkungannya, bahkan pada keluarga darah kandungnya.
Bagaimana wajah Rahma atas nama cinta dan air mata. Sudahkah cukup ia jalani? Atau tetap maju dengan kondisi kedepan yang tidak pasti atas nama Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Siapakah yang mampu membela. Mungkin juga aku atau dirinya sendiri?
Pintu yang Selalu Tertutup
Tidak mudah menjumpai Rahma. Setidaknya aku. Orang yang memahami jiwa Rahma yang kosong. Sulit aku mengisinya, agar hatinya yang kosong, terisisi dengan hatiku.
Akses yang mampu menghubungkan Rahma dengan aku tak mendapat celah. Bukan karena Rahma yang tak mampu lagi berlabuh di hatiku untuk menghitung derita yang harus ia bayar, tetapi kondisi telah menciptakan kebuntuan.
Rumah Rahma bukan saja pintunya yang selalu ditutup dan pagarnya yang tinggi menjulang. Tapi, rumahnya juga dilengkapi kamera bersembunyi dan telpon yang tersadapkan. Hingga hampir ada peluang masuk aku berjima dengannya.
Kini, Rahma tinggal seorang yang cukup di hati saja. Selain masalah Rangga, juga faktor sosial, bahkan juga norma-norma hukum dan sosial. Ini adalah episode hidup, yang harus di cermati.
Entahlah apa namanya untuk sebuah pelumas spirit, yang mampu menutupi luka Zuhdis dan memberi fatamorgana. Kendati semu, namun Rahma tetaplah Rahma, istri kapten pelaut yang mampu membuat aku terbang melayang walau tanpa tujuan.
***




























