Setelah 3 bulan, para pengungsi korban Situ Gintung harus menentukan nasibnya sendiri. Namun masih banyak yang menggantung belas kasih.



Jeritan Hati:

Besok Kami Menentukan Nasib Sendiri

Masih lekat dari ingatan kita tragedi jebolnya Situ Gintung yang terjadi Jumat pagi 27 Maret 2009 silam. Tragedi yang memilukan bagi umat manusia yang tinggal di kawasan itu. Gemuruh air yang menerjang pemukiman, menyapu harta benda dan jiwa manusia.

Jerit tangis bayi, dan paniknya binatang peliharaan warga, tak mampu meredam amuknya air yang pecah di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Orang-orang dengan seribu wajah meratap menjadi jiwa yang kerdil. Hari itu mereka ada yang menganggap dunia sudah berakhir.

Kiamat kecil bagi keluarga miskin di Situ Gintung sudah datang. Tak ada tawar- menawar lagi semua lenyap, dan sebagian keluarga berpisah, karena kepanikan ketika air bah datang. Air mata tak mampu menemukan sanak-saudaranya yang hilang, jeritan tak mampu mengembalikan kehidupan awal.

Cinta Karti pada keluarganya melebihi harta benda yang hilang. Saat musibah itu datang, mereka tidak lagi memikirkan harta-benda. Sepeda motor tua yang dijadikan Marto, suaminya untuk mengojek sebagai ladang mata pencarian hidupnya ia tinggalkan. Keluarga itu memilih pergi mengungsi.

’Alhamdullilah, kami sekeluarga selamat, walau hanya yang tersisa baju di badan,’
ujar Karti setengah menangis.

Karti tinggal di bantaran Situ Gintung sudah bertahun-tahun, ia tidak ingat tahun berapa Karti tinggal di sana. Tapi Karti menikah sudah 26 tahun dan sejak kecil sudah tinggal di sana.

Karti dan ratusan penduduk Situ Gintung memiliki nasib yang sama, mereka kini tinggal di bedeng-bedeng Hunia Sementara (Huntara) yang digerakan Dompet Duafa (Republika). Di satu lokasi itu, Karti tinggal bersama Tujuh Belas Kepala Keluarga lainnya.

Ada Tawa Getir di Huntara

Tawa riang anak-anak malam purnama di depan Hunian Sementara melukiskan surga yang datang. Tidak ada kepedihan. Sejenak mereka melupakan musibah yang bikin mereka luka.

Nyanyian dan tawa riang Deni bersama Ucil, kerap terdengar dari tiplek hunian, sementara orangtua mereka menerawang jauh pada impian yang hinggap sejenak melepas kepedihan yang masih terus mendera.

“Pak, bisa tidak ya, kita punya rumah lagi. Kita beli saja rumah BTN di Ciomas,” kata Karti pada suaminya.
Wajah suaminya tak semeringah impian Karti. Marto justru panik. Belakangan ia stres. Wajar sajalah, sebagai kepala keluarga, Marto sebagai nahkoda kehidupan rumah tangganya ini. Hari ini mendapat hunian sementara, tidak kerja mendapat banyak uang sumbangan. Besok akankah Marto akan terus di manja dengan kondisi demikian? Inilah kehidupan keras yang harus dipecahkan.

Karti, istri Marto terdiam! Ia baru tersadar ketika tetangganya berteriak-teriak memberitahukan sudah ada makan malam saat ini. Karti bergegas keluar, nyaris melupakan kepeningan suaminya.

Bersama puluhan pengungsi lainnya Karti antri untuk menjemput nasi bungkus yang di bagikan para volentir kemanusiaan. “Lauknya enakan nih, sekarang. Ada rendangnya,” bisik Karti pada Iyam.

Iyam mengiyakan. Sambil mesem-mesem, di otaknya sudah terlintas, berapa bungkus nasi yang harus di pinta untuk keluarganya malam ini. Suasana pengungsian menjadi lebih ceria, sedikit terlupa dari kondisi jiwanya yang pedih saat ini.

Batas Waktu Tiga Bulan

Karti selalu di ingatkan. Tinggal di hunia sementara ini hanya tiga bulan. Setelah ini silahkan mencari kehidupan masing-masing yang lebih baik. Tapi Karti belum dapat berpikir untuk kelanjutan hidupnya.

“Suami saya belum bekerja. Sehari-hari kami hidup dari kerja suami yang mengojek. Tapi, sekarang tidak bisa mengojek, karena motor suami saya hanyut terbawa air bah,” kenangnya pahit.

Sudah satu bulan mereka di manja dengan belas kasih orang atas nama peduli musibah Situ Gintung. Sekarang masih bisa tertawa, besok mereka kembali merana. Bayang-bayang itulah yang kerap menghantui persaan Karti dan ratusan korban Situ Gintung lainnya.

Belum lagi yang mereka kehilangan sanak-saudaranya. Suaminya yang hilang anak-istrinya. Anak-anak yang kehilangan orangtuanya, meratapi hari esok. Sekarang ini saja mereka dibesarkan para psikater volentir, besok tak ada lagi psikater, dokter mau pun relawan yang berkeliaran di sini.

Lahan-lahan mereka pun tidak boleh di tempati. Karena rumah-rumah mereka pun hancur, bahkan terbawa derasnya air bah Situ Gintung yang mengamuk karena jebolnya tanggul.

Masa-masa rehabilitasi ini memang menjadi warna lain pasca bencana. Ada yang siap, ada juga yang tidak mampu untuk berpikir ke depan. Diantara mereka, tidak sedikit yang mengalami depresi. Sering murung bahkan teriak-triak. Namun, bentuk depresi mereka banyak yang lebih menjadi sosok pendiam, dari prilaku aslinya yang periang.

“Sudah terlalu berat berpikir kali. Sering bengong saja si Ijah itu,” ujar Karti. “Makanya saya sering tegur dia, biar tidak kepanjangan.”
Pelatihan Kemandirian

Para relawan tidak tinggal diam. Mereka aktif memberikan pelatihan kemandirian baik mental mau pun kemandirian usaha. Kemandirian usaha dilakukan berdasarkan pola bakat dan latar belakang para korban yang menjadi binaanya.

Koordinator relawan Situ Gintung Ade mengatakan bahwa, pihaknya terus melakukan bimbingan mandiri. Waktu yang terbatas ini, harus dapat dibekali kemandirian bagi para pengungsi, karena tidak selamanya pengungsi selalu mendapat tuntutan relawan.

Warga binaannya terdiri dari oarang-orang dewasa, remaja dan anak-anak. Mereka dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan. Diantara mereka juga dibekali dengan modal untuk bentuk usaha.

Bagi para relawan, terpenting saat ini mereka dibekali dengan kekuatan mental. Karena dengan mental yang lemah tidak mampu mandiri. Kondisi itu penting dilakukan dalam setiap aktifitas kegiatan dipengungsian.

Sekolah ceria yang di bangun para relawan merupakan bentuk pelatihan kemandirian, membentuk jiwa yang kuat. “Karena semua itu modal dasar. Modal dasar itu yang nantinya mampu menjembatani para pengungsi untuk menyadari bahwa dirinya mampu berdiri kembali di kakinya sendiri,” ujar Ade.

Pembekalan itu memang terlihat dilakukan di posko-posko relawan. Para korban dibekali keterampilan. Mereka secara rohani juga dibekali dengan iman dan takwa pada sang pencipta. Kuatkah mereka untuk hidup mandiri? Hanya ada di jiwa masing-masing. Karena besok mereka mau atau tidak mau harus menentukan nasibnya sendiri. (Hais Quraisi).

Kisah ini bisa di baca secara lengkap di Majalah Ombudsman News edisi Mai 2009. Pesan majalah tlp.08561858610 Rp 27.500,-/eksemplar