Upaya seseorang untuk meraih kesuksesan tidak bisa ditentang siapa pun juga. Termasuk bagi kaum tuna netra, yang memiliki kekurangan pada umumnya manusia normal yang bisa melihat. Bulan Suci Ramdahan 1429 Hijriah ini, sekitar 200 tuna netra membuktikan hal itu. Mereka berupaya membaca Al Qur’an bagai orang yang memiliki penglihatan normal.
Malam di bulan suci Ramadhan ini, yayasan Arrahmah, yang terletak di jalan Jatinegara IV gang Masjid I Rt.04/04 Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur tak seperti biasa. Sekitar 200 kaum tuna netra berlomba-lomba melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Mereka unjuk kebolehan di acara yang dinamai Gebyar Ramadhan.
Made Adi Gunawan, Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Wilayah ITMI Jakarta Timur mengungkapkan. Gebyar Ramadhan ini, bukan saja di gelar di lima wilayah DKI. Acara di lima wilayah itu setelah Jakarta Timur mengawalinya.
Adi menjelaskan, tujuan Gebyar Ramadhan ini, guna membina kerohanian kaum tunanetra sehingga bisa menerapkan ajaran Islam di masyarakat. Selama ini, kata Adi, kaum tunanetra identik sebagai juru pijat. Dan lewat Gebyar Ramadhan ini, dapat mengetuk orang normal yang justru enggan membaca Al Qur’an. (dod/wk)
Penjaja Cobek Berjuang Untuk Hidup
Penjaja cobek batu yang kerap kita temui di kawsan Pondok Indah dan Karang Tengah sampai Cinere, pelakonnya pedaagang cilik. Mereka bertahan sejak pagi hingga rembulan merekah menjelang larut.
Tak pernah mereka kenal bangku sekolah yang sama seperti pernah Anda rasakan sejak kecil. Jauh dan makin jauh.
Mereka hanya menghitung, berapa jumlah cobek batu yang dipertontonkan di trotoar jalan itu dapat ditaksir pelalang di sana. Karena hal itu tidak mudah. Jaman secanggih ini sudah usang memakai cobek, peralatan masak yang serba praktis dan modern selalu ditepis pemikiran Warno.
Pria cilik ini hanya berharap dua atau tiga cobek batu saja terjual, ia mampu bertahan hidup satu sampai dua hari. Semua harus dibayar dengan sebuah impian. Sama halnya Anda yang memiliki dream untuk punya banyak kekayaan. Warno dan kawan-kawan pun punya dream untuk bisa tercapai impian, yaitu makan enak esok.
Pikiran bocah itu sama dengan pendaki gunung, berhenti diketinggian Pangrango, sama artinya mati. Mereka harus memperoleh puncak kecil yaitu penglaris. Bagaiamana dengan Anda?! (hs)
Pasien Miskin Mimpi Dapat Hak Hidup
Pasien miskin yang terusir dari berbagai rumah sakit di Jakarta terus berjuang untuk memiliki hak hidup.Mereka tidak menerima di usir dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan alasan renovasi ruangan di RSCM.
Akibatnya, mereka menggeliat untuk melawan pihak rumah sakit, dan menuntut pemerintah untuk beri mereka hak yang sama untuk hidup.
Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK) memfasilitasi hak hidup mereka. Berjuang untuk mendampingi pasien miskin di rumah sakit. Mereka berdemo dengan aneka lakon sekedar diberi hak sama sebagai warga negara Indonesia.
“Mereka mengobarkan semangat juang, tidak pernah menyerah untuk perbaikan nasib. Mereka manusia, sama seperti kita,” kata Iskanadar Sitorus dari LBHK.
Perjuangan pasien miskin ini, telah menyelusuri berbagai birokrasi, dari Direktur RSCM, Polda Metro Jaya hingga Departemen Kesehehatan Republik Indonesia.
Namun hak hidup para pasien miskin ini masih dipandang sebelah mata. Tapi pasien miskin itu sebaliknya memandang pemerintah justru dengan dua mata mereka. (h)
FESTIVAL RAMADHAN
FESTIVAL Ramadhan 1429 Hijiah yang menampilkan berbagai aneka makanan nusantara, pakaian jadi, produk kerjaninan, produk elektronik, serta berbagai lomba Islami dan pertunjukan seni bernuansa Islam di gelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 5 hingga 21 September 2008.
Festival Ramadan 1429 Hijriah ini, baru pertama kali di gelar. Sedangkan tema yang digelar ini, mengusung ‘Penggalangan Daya Menuju Sejahtera’, sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kota Madya Jakarta Pusat untuk memberikan kesempatan para pedagang kali lima, juga usaha kecil, industri rumah tangga, dan masyarakat umum.
Para PKL dan industri rumah tangga ini setidaknya diberi ruang untuk memasarkan hasil produksinya agar berlembang. Selain juga terdapat banyak seniman amatir yang mampu memperdayakan karya seninya pada masyarakat luas di bulan ramadahan tahun ini.
Festival ramadahan ini, lebih bersifat ke kekeluargaan. Karena yang di uatamakan pada penyelenggaraan event yang lebih menyatukan visi misi masyarakat. Karena dengan kebersamaan itu berbuah kebaikan. Festival ini bertekanan membangun daya maju masyarakat khususnya di bulan Suci.
Festival itu bukan festival formal seperti seremonial khusus mirip festival-festival lain. Ia juga menekankan pada Event Organizer yang dipercaya menggelar acara festival ini, Theresia Gayatri, blar berbagai lomba bernuansa Islami, festival ini lebih pada produk budaya kekeluargaan.
Festival ini juga menggelar lomba bernuansa muslim, diantaranya lomba adzan, membaca Al Qur’an, marawis, pukul bedug dan kaligrafi. (e)




























