Judul : MEDIA RAKYAT, Mengorganisasi Diri Melalui Informasi
Diterbitkan : Combine Resource Institution
Cetakan : Pertama, Tahun 2007
Editor : Akhmad Nasir, Ade Tanesia, Imam Prakoso, Mulya Amri
Tim Penulis : Afrizal, Agus Sasongko, Ade Tanesia, Biduk Rokhmani, Basri Andang, Imam Prakoso, Rohman Yuliawan, Mulya Amri, Vinondini Effendi
Setelah 32 tahun, negara ini menjadi wilayah yang "sepi" dari suara rakyat yang terbungkam, maka tahun 1998 menjadi titik balik bagi perjalanan bangsa ini. Suara rakyat yang disalurkan melalui berbagai cara berkumandang seantero besar nusantara. Itulah tanda datangnya era demokrasi. Saat itu banyak orang terpengaruh, bagaimana mungkin kaum tertindas dapat mengemukakan pendapatnya setelah puluhan tahun terbungkam.
Banyak yang tidak menyadari bahwa proses pemberdayaan masyarakat telah berlangsung pula selama rejim otoriter orde baru berkuasa. Banyak pula yang tidak mengetahui bahwa rakyat pun tidak bungkam sama sekali. Ini terlihat melalui munculnya kiprah komunitas yang coba menyuarakan pendapatnya, merancang sejumlah sarana dan media terkait dengan penyampaian aspiranya, mengelola informasi komunitasnya menjadi pengetahuan lokal yang sangat berguna dalam proses pembangunan. Jika mengarahkan analisis dengan lebih mendalam, akan banyak terlihat komunitas, atau bahkan masyarakat itu sendiri mampu mengolah sejumlah cara untuk bergerak melawan dari segala bentuk penindasan dan pembungkaman, dan merengkuh posisi terbaik dari ketertinggalan yang sebelumnya melanda rakyat. Namun seperti apa cara dan bentuknya?. Inilah yang coba dipaparkan secara lebih jauh oleh buku Media Rakyat, mengorganisasi diri melalui informasi. Bagaimana dengan jalan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK), peran dari media rakyat dalam meracik berbagai macam hal terkait masyarakat itu sendiri, mampu memberikan lebih dari sekedar penyampaian aspirasi serta pemberdayaan di masyarakat.
Buku yang bertebal 184 halaman ini, pada bab pendahuluan, Mulya Amri yang juga sebagai editor di buku ini, menganalisis tentang irisan dari dua pendekatan, yaitu TIK dan pemberdayaan, dan besarnya peluang dua pendekatan itu. Berangkat dari hal tersebut, dan semakin besarnya penggunaan TIK dalam pemberdayaan, terlihat kuatnya hubungan antara Teknologi, informasi dan komunikasi sebagai langkah pemberdayaan di masyarakat. Bahkan keduanya sudah menjadi ranah (domain) tersendiri yang begitu mapan. Selain itu, dijelaskan pula mengenai bagaimana sampai dengan saat ini masih sedikit pihak yang mempraktekkan kedua hal tersebut secara bersamaan dan saling mendukung. Seperti disatu sisi, begitu banyak sumber daya yang dialokasikan untuk membangun keberdayaan masyarakat tanpa sedikit pun menyentuh aspek informasi dan pengetahuaan. Disisi lain, berbagai upaya mengaplikasikan "TIK untuk pembangunan" ternyata tidak pernah digabungkan dengan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat.
Keterisolasian ini mengundang tanda tanya karena irisan dari kedua ranah pemberdayaan dan TIK semestinya menyimpan banyak potensi untuk memperbaiki pemahaman kita tentang proses penguatan masyarakat dan mengaplikasikan cara-cara baru untuk mencapainya secara lebih efektif. Analisis terkait irisan"pemberdayaan dan TIK", di buku ini juga diperkuat dengan penjelasan tentang "pemberdayaan Masyarakat". dari mulai esensi pemberdayaan, yang merujuk pada beberapa definisi, seperti definisi menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNDP), sampai menurut Kementrian Negara Pemberdayaan perempuan.Selain mengenai hal diatas, terkait tanda-tanda keberdayaan juga dipaparkan dengan begitu jelas melalui rujukan yang di ambil dari seorang ahli sosiologi yang lama menetap di Afrika dan melakukan pemberdayaan masyarakat, Phil Bartle. Di situ dijelaskan mengenai 16 elemen yang menunjukkan kuat dan lemahnya suatu komunitas. Semakin bedaya satu komunitas, maka semakin kuat pula tiap elemen tersebut.
Pada catatan selanjutnya, dalam buku Media Rakyat, Mengorganisasi diri melalui informasi ini juga disampaikan mengenai partisipasi sebagai cara dan tujuan. Pada bagian ini coba di terangkan mengenai bagaimana untuk mencapai tataran suksesnya pemberdayaan yang coba ditempuh melalui jalan TIK, diperlukan beberapa prinsip penting dalam ruang dan konteks pemberdayaan. Salah satunya adalah, bahwa semua langkah, perlu kiranya dilakukan secara bersama-sama oleh anggota komunitas itu sendiri, bukan dirumuskan dan dikerjakan oleh orang lain, secara tertutup dan terbatas. Buku ini coba menarik satu analisis mengenai langkah pragmatis dengan cara mempelajari terlebih dahulu kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi, dengan tanpa disadari oleh satu komunitas dalam hal pemberdayaan. Kesalahan itu mencakup minimnya partisipasi internal, demi keberlangsungan tujuan dan pemberdayaan. Hal tersebut mungkin sepele, namum tidak sedikit bukti yang juga coba di tunjukan buku ini, sebagai penguat gagasan-gagasan yang telah ditawarkan pada setiap bahasan.
Yang juga tidak tertinggal untuk dikupas secara mendalam oleh buku ini adalah, bentuk pensiasatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembangunan. Salah satu istilah kunci yang terkait dengan konsep tersebut adalah masyarakat informasi (Information Society). Upaya pensiasatan yang ditunjukkan oleh buku ini, dalam hal analisis tentang masyarakat informasi, pada dasarnya sekaligus menyudahi pensalah kaprahan sebagian orang yang berpendapat bahwa masyarakat informasi adalah, semua dari masyarakat yang telah dan/atau sudah menggunakan berbagai produk dari teknologi untuk berkomunikasi (Internet, Handphone, dan lain-lain). Padahal, untuk menuju pada cakupan paradigma masyarakat informasi, diperlukan sejumlah pemikiran-pemikiran, yang dengan secara langsung atau tidak, mampu menyentuh pada titik paling krusial di masyarakat, sebagai bahan pertimbangan, dan kemudian diharapkan dapat memberikan perubahan signifikan di masyarakat. Itulah yang ditawarkan buku ini untuk juga di sadari oleh para pembaca. Sebagai satu contoh, penjelasan tentang cakupan informasi yang sudah merambah pada sektor perekonomian masyarakat. Bukan hanya tentang bagaimana mengatur perekonomian berbasis informasi, namun bagaimana dengan usaha-usaha yang terkait dengan informasi, mampu berperan besar menunjang pertumbuhan ekonomi satu negara. Usaha-usaha yang dimaksud adalah usaha yang terkait dengan pendidikan, penelitian, pengembangan, pusat data/informasi, hiburan, dan lain-lain.
Bagian lain, yang bisa juga dikatakan bagian terpenting dalam buku ini adalah, pemaparan beberapa contoh kasus terkait pemberdayaan dan TIK. Beberapa contoh kasus yang ditunjukkan di dalam buku Media Rakyat, Mengorganisasi diri melalui informasi ini adalah, gambaran tentang kondisi, situasi, dan berbagai macam hal lainnya yang kerap ditemukan oleh media komunitas. Bagian ini terkemas melalui kisah beberapa radio komunitas di sebagian besar kota di Indonesia. Dari mulai, tujuan tentang deberadakannya media tersebut, hingga kasus, tantangan, kendala, dan situasi yang dihadapi oleh komunitas berbasis pada media informasi dan teknologi. Cerita yang dikemas secara menarik dan kaya dengan khasanah jurnalistik para penulisnya, membuat buku ini semakin kuat dalam penyampaian tentang "Media rakyat sebagai sarana untuk mengorganisasi diri melalui informasi". Sudah saatnya, kiprah komunitas yang tertera dalam buku ini, mampu memberi wawasan baru dan sekaligus iinspirasi bagi siapapun.
Diterbitkan : Combine Resource Institution
Cetakan : Pertama, Tahun 2007
Editor : Akhmad Nasir, Ade Tanesia, Imam Prakoso, Mulya Amri
Tim Penulis : Afrizal, Agus Sasongko, Ade Tanesia, Biduk Rokhmani, Basri Andang, Imam Prakoso, Rohman Yuliawan, Mulya Amri, Vinondini Effendi
Setelah 32 tahun, negara ini menjadi wilayah yang "sepi" dari suara rakyat yang terbungkam, maka tahun 1998 menjadi titik balik bagi perjalanan bangsa ini. Suara rakyat yang disalurkan melalui berbagai cara berkumandang seantero besar nusantara. Itulah tanda datangnya era demokrasi. Saat itu banyak orang terpengaruh, bagaimana mungkin kaum tertindas dapat mengemukakan pendapatnya setelah puluhan tahun terbungkam.
Banyak yang tidak menyadari bahwa proses pemberdayaan masyarakat telah berlangsung pula selama rejim otoriter orde baru berkuasa. Banyak pula yang tidak mengetahui bahwa rakyat pun tidak bungkam sama sekali. Ini terlihat melalui munculnya kiprah komunitas yang coba menyuarakan pendapatnya, merancang sejumlah sarana dan media terkait dengan penyampaian aspiranya, mengelola informasi komunitasnya menjadi pengetahuan lokal yang sangat berguna dalam proses pembangunan. Jika mengarahkan analisis dengan lebih mendalam, akan banyak terlihat komunitas, atau bahkan masyarakat itu sendiri mampu mengolah sejumlah cara untuk bergerak melawan dari segala bentuk penindasan dan pembungkaman, dan merengkuh posisi terbaik dari ketertinggalan yang sebelumnya melanda rakyat. Namun seperti apa cara dan bentuknya?. Inilah yang coba dipaparkan secara lebih jauh oleh buku Media Rakyat, mengorganisasi diri melalui informasi. Bagaimana dengan jalan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK), peran dari media rakyat dalam meracik berbagai macam hal terkait masyarakat itu sendiri, mampu memberikan lebih dari sekedar penyampaian aspirasi serta pemberdayaan di masyarakat.
Buku yang bertebal 184 halaman ini, pada bab pendahuluan, Mulya Amri yang juga sebagai editor di buku ini, menganalisis tentang irisan dari dua pendekatan, yaitu TIK dan pemberdayaan, dan besarnya peluang dua pendekatan itu. Berangkat dari hal tersebut, dan semakin besarnya penggunaan TIK dalam pemberdayaan, terlihat kuatnya hubungan antara Teknologi, informasi dan komunikasi sebagai langkah pemberdayaan di masyarakat. Bahkan keduanya sudah menjadi ranah (domain) tersendiri yang begitu mapan. Selain itu, dijelaskan pula mengenai bagaimana sampai dengan saat ini masih sedikit pihak yang mempraktekkan kedua hal tersebut secara bersamaan dan saling mendukung. Seperti disatu sisi, begitu banyak sumber daya yang dialokasikan untuk membangun keberdayaan masyarakat tanpa sedikit pun menyentuh aspek informasi dan pengetahuaan. Disisi lain, berbagai upaya mengaplikasikan "TIK untuk pembangunan" ternyata tidak pernah digabungkan dengan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat.
Keterisolasian ini mengundang tanda tanya karena irisan dari kedua ranah pemberdayaan dan TIK semestinya menyimpan banyak potensi untuk memperbaiki pemahaman kita tentang proses penguatan masyarakat dan mengaplikasikan cara-cara baru untuk mencapainya secara lebih efektif. Analisis terkait irisan"pemberdayaan dan TIK", di buku ini juga diperkuat dengan penjelasan tentang "pemberdayaan Masyarakat". dari mulai esensi pemberdayaan, yang merujuk pada beberapa definisi, seperti definisi menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNDP), sampai menurut Kementrian Negara Pemberdayaan perempuan.Selain mengenai hal diatas, terkait tanda-tanda keberdayaan juga dipaparkan dengan begitu jelas melalui rujukan yang di ambil dari seorang ahli sosiologi yang lama menetap di Afrika dan melakukan pemberdayaan masyarakat, Phil Bartle. Di situ dijelaskan mengenai 16 elemen yang menunjukkan kuat dan lemahnya suatu komunitas. Semakin bedaya satu komunitas, maka semakin kuat pula tiap elemen tersebut.
Pada catatan selanjutnya, dalam buku Media Rakyat, Mengorganisasi diri melalui informasi ini juga disampaikan mengenai partisipasi sebagai cara dan tujuan. Pada bagian ini coba di terangkan mengenai bagaimana untuk mencapai tataran suksesnya pemberdayaan yang coba ditempuh melalui jalan TIK, diperlukan beberapa prinsip penting dalam ruang dan konteks pemberdayaan. Salah satunya adalah, bahwa semua langkah, perlu kiranya dilakukan secara bersama-sama oleh anggota komunitas itu sendiri, bukan dirumuskan dan dikerjakan oleh orang lain, secara tertutup dan terbatas. Buku ini coba menarik satu analisis mengenai langkah pragmatis dengan cara mempelajari terlebih dahulu kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi, dengan tanpa disadari oleh satu komunitas dalam hal pemberdayaan. Kesalahan itu mencakup minimnya partisipasi internal, demi keberlangsungan tujuan dan pemberdayaan. Hal tersebut mungkin sepele, namum tidak sedikit bukti yang juga coba di tunjukan buku ini, sebagai penguat gagasan-gagasan yang telah ditawarkan pada setiap bahasan.
Yang juga tidak tertinggal untuk dikupas secara mendalam oleh buku ini adalah, bentuk pensiasatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembangunan. Salah satu istilah kunci yang terkait dengan konsep tersebut adalah masyarakat informasi (Information Society). Upaya pensiasatan yang ditunjukkan oleh buku ini, dalam hal analisis tentang masyarakat informasi, pada dasarnya sekaligus menyudahi pensalah kaprahan sebagian orang yang berpendapat bahwa masyarakat informasi adalah, semua dari masyarakat yang telah dan/atau sudah menggunakan berbagai produk dari teknologi untuk berkomunikasi (Internet, Handphone, dan lain-lain). Padahal, untuk menuju pada cakupan paradigma masyarakat informasi, diperlukan sejumlah pemikiran-pemikiran, yang dengan secara langsung atau tidak, mampu menyentuh pada titik paling krusial di masyarakat, sebagai bahan pertimbangan, dan kemudian diharapkan dapat memberikan perubahan signifikan di masyarakat. Itulah yang ditawarkan buku ini untuk juga di sadari oleh para pembaca. Sebagai satu contoh, penjelasan tentang cakupan informasi yang sudah merambah pada sektor perekonomian masyarakat. Bukan hanya tentang bagaimana mengatur perekonomian berbasis informasi, namun bagaimana dengan usaha-usaha yang terkait dengan informasi, mampu berperan besar menunjang pertumbuhan ekonomi satu negara. Usaha-usaha yang dimaksud adalah usaha yang terkait dengan pendidikan, penelitian, pengembangan, pusat data/informasi, hiburan, dan lain-lain.
Bagian lain, yang bisa juga dikatakan bagian terpenting dalam buku ini adalah, pemaparan beberapa contoh kasus terkait pemberdayaan dan TIK. Beberapa contoh kasus yang ditunjukkan di dalam buku Media Rakyat, Mengorganisasi diri melalui informasi ini adalah, gambaran tentang kondisi, situasi, dan berbagai macam hal lainnya yang kerap ditemukan oleh media komunitas. Bagian ini terkemas melalui kisah beberapa radio komunitas di sebagian besar kota di Indonesia. Dari mulai, tujuan tentang deberadakannya media tersebut, hingga kasus, tantangan, kendala, dan situasi yang dihadapi oleh komunitas berbasis pada media informasi dan teknologi. Cerita yang dikemas secara menarik dan kaya dengan khasanah jurnalistik para penulisnya, membuat buku ini semakin kuat dalam penyampaian tentang "Media rakyat sebagai sarana untuk mengorganisasi diri melalui informasi". Sudah saatnya, kiprah komunitas yang tertera dalam buku ini, mampu memberi wawasan baru dan sekaligus iinspirasi bagi siapapun.




























